Di sana, Asad belajar di bawah asuhan ulama-ulama besar di zamannya, seperti Sayyid Abbas Bin Abdul Aziz (kakek dari Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki), Syekh Muhammad Amin Al-Quthbi, termasuk juga kepada salah seorang guru yang berasal dari Yogyakarta, yakni Syekh Bakir.
Kemudian beliau kembali ke tanah air untuk menimba ilmu kembali kepada Syaikhona Kholil di Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan, Madura. Diceritakan bahwa semasa mondok di sana, beliau justru tidak pernah diperintahkan oleh sang maha guru untuk belajar, berbeda dengan para santri lainnya. Beliau justru diperintah untuk membangun pondok.

Di pesantren inilah beliau mendapatkan pengalaman yang sangat sulit dilupakan, yakni menjadi mediator atau pembawa pesan dalam sejarah berdirinya NU.
Mediator NU
Mungkin nama beliau kurang begitu dikenal dalam literatur sejarah berdirinya NU. Hal ini cukup wajar, sebab semasa hidupnya, beliau enggan jika kisah perjuangannya diungkap ke publik lantaran merasa khawatir terjerumus ke dalam penyakit hati, yaitu riya’.
