Kiai Chamzawi, Istikamah Ngaji Bareng Pemulung

Bang Umar, sapaan akrabnya, mengisahkan, kala itu dirinya masih mengenyam di kuliah Strata I di kampus yang sekarang menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dirinya sering menghaturi Kiai Chamzawi untuk mengisi ngaji di komplek pemukiman pemulung.

“Tepatnya di sebuah ruangan yang dipenuhi tumpukan sampah dan dipengapi aroma anyir, lalu dipaksa jadi mushala,” ungkap Bang Umar, Kamis (16/08/2023).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pria yang juga dosen UIN Malik Ibrahim Malang ini menerangkan, Kiai Chamzawi selalu istikamah ngaji di kawasan pemulung dengan caranya sederhana. Mulai pembacaan tahlil, maulid Ad-Diba’i, lalu tausiyah Kendati acara dan suasana di pemukiman pemulung itu sangat bersahaja, Kiai Chamzawi selalu istikomah hadir.

“Padahal, yang hadirpun bukan orang-orang penting. Hanya beberapa emak dan bapak pemulung, ditambah segelintir mahasiswa sebagai penggerak,” kenangnya.

Pernah suatu saat, Bang Umar mengundang salah seorang kiai kondang. Awalnya menyanggupi hadir, akan tetapi, setelah tahu lokasi pengajiannya di pemukiman pemulung, kiai kondang tersebut serta merta membatalkan secara sepihak.

Hal ini berbeda dengan Kiai Chamzawi. Meskipun, telah menjadi seorang kiai, akademisi, dan Rais PCNU Kota Malang, Kiai Chamzawi tetap berkenan datang ke perkampungan pemulung memberikan pengajian dan bimbingan dengan telaten dan tulus.

Sebab, bagi Kiai Chamzawi, kesuksesan dakwah dan tarbiyah itu bukan dilihat dari berapa ribu jamaah yang datang, atau siapa saja yang hadir, atau seberapa mewah acara itu digelar. Akan tetapi, berdakwah berkaca dari Kiai Chamzawi adalah bagaimana seorang guru piawai menjaga keikhlasan dan keistikamahan dalam berdakwah.

Tinggalkan Balasan