Kiai Mahdari, Pejuang Pendidikan Madrasah

Terkait dengan kharisma Kiai Mahdari, seorang murid pertama Beliau, Moh. Subki, mengatakan, “Kiai Mahdari itu sangat wibawa, kharisma. Mau lewat di depan rumahnya saja sangat sungkan,” demikian menurut Moh. Subki pada suatu waktu saat berbincang tentang Kiai Mahdari.

Seturut berjalannya waktu, dari hari ke hari, perkembangan lembaga surau semakin mengalami kemajuan. Maka kemudian dimulai proses pembelajaran formal dengan nama madrasah Darul Ulum. Madrasah yang ada di Desa Batuputih Kenek, Batuputih, Sumenep ini termasuk pembaga madrasah yang pendahulu. Sebelum ada madrah-madrasah lain di sekitar desa itu, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum telah dulu berdiri. Sebuah bangunan madrasah berdiri dengan kokoh. Meski masih sangat sederhana, tidak ada mebeler yang dimiliki, siswa duduk di lantai berdebu, tetapi madarsah tersebut telah berkontribusi signifikan terhadap sebuah proses pengajaran. Khususnya pembelajaran dasar-dasar keislaman yang menjadi ciri khas sebuah madrasah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kiai Mahdari mengajarkan materi kemadrasahan tanpa adanya gaji atau honor. Akan tetapi Beliau mengajar semata-mata untuk  mengabdi dan hanya untuk mengharap ridha Allah swt. Dan itu berlangsung hingga beberapa tahun lamanya. Hingga pada suatu kesempatan, Kiai Mahdari mencoba peruntungan untuk mengikuti tes Calaon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Dengan berbekal ijazah PGA (Pendidikan Guru Agama), setingkat sekolah menengah, Beliau mendaftarkan diri dan ikut seleksi.

Jalan takdir Kiai Mahdari ternyata ada pada pengabdian keguruan. Jika kemudian Beliau diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Agama Islam, itu merupakan kelanjutan kesibukan kiai yang kharismatik ini untuk tetap bergelut dengan pengajaran dan pembelajaran.

Mengabdi di pemerintahan serta mengurusi lembaga madrasah yang telah dirintis sejak awal menjadi linier dan saling memberikan kemanfaatan serta bersinergi. Jika akhirnya di MI Darul Ulum dibantu oleh keponakan-kepobakan Beliau yang dianggap mumpuni dalam memberikan pembelajaran, itu merupakan bagian dari kesuksesan ilmu yang Beliau ajarkan. Penulis juga mengabdi di madrasah ini hingga saat ini.

MI Darul Ulum awal berdirinya hanya berupa sebuah surau yang sangat sederhana. Sehingga sulit melacak, kapan tanggal berdirinya lembaga pendidikan tradisional ini. Kemudian, seiring berjalannya waktu, terbentuklah Yayasan Darul Ulum yang menjadi titik balik berdirinya madrasah dengan legalitas formal. Tentu saja madrasah ini masih sangat sederhana. Tanpa adanya tempat duduk, bahkan lesehan di atas lantai semen yang berdebu. Sehingga kondisinya sungguh memprihatinkan. Tetapi bagi salik (penuntut ilmu) hal tersebut bukan halangan untuk tetap teguh dan sabar meski dalam kesahajaan.

Ada banyak hal yang menjadi kenangan antara Kiai Mahdari (saya memanggilnya Anom —Paman— karena Beliau adik kandung dari ibu saya) dengan penulis, seperti dasar-dasar ilmu nahu, kaidah tauhid, ilmu fikih, dasar-dasar salat, dan lain sebagainya. Bahkan dasar Bahasa Inggris pernah Beliau ajarkan kepada penulis. Dan yang sangat tidak dapat dilupakan, ketika penulis mengungkapkan untuk ikut ujian CPNS.

Tinggalkan Balasan