Kiai Rifai, Gerakan Literasi dan Perlawanan pada Kompeni

Di waktu yang berbeda dengan kondisi yang hampir sama, aktivitas literasi dikembangkan dalam bentuk yang lebih informatif dan efektif oleh para tokoh pergerakan di era selanjutnya dengan membangun corong-corong perjuangan, seperti membentuk berbagai surat kabar dan majalah sebagai wadah mencurahkan gagasan tentang misalnya menentukan nasib bangsa. Tulisan-tulisan mereka di surat kabar cukup menggugah kesadaran dan tentunya mengusik penjajah. Sebut, misalnya, HOS Tjokroaminoto, Soewardi Soeryaningrat, atau Ki Hajar Dewantara dan masih banyak lagi.

Mbah Rifai, panggilan KH Ahmad Rifai, dengan produktif menulis kitab berbentuk bait-bait syair nadhom berbahasa Jawa yang oleh para jemaahnya kemudian kitab-kitab itu dikenal dengan nama Tarajumah. Mbah Rifai ingin masyarakat waktu itu bisa memahami ajaran agama dengan mudah. Dari penelusuran penulis pada beberapa literatur, tercatat Mbah Rifai telah menulis kitab kurang lebih 50-an dan setiap kitabnya bermacam-macam bahasannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mbah Rifai kelihatannya tidak ingin karya-karyanya hanya dikaji dan dipahami di lingkungan pesantren. Ia juga ingin karya-karyanya bisa bermanfaat untuk masyarakat luas waktu itu. Semangat perjuangannya adalah untuk ngical aken kebodohan dan ngurip-ngurip agama Islam (menghilangkan kebodohan menghidupkan agama Islam) di tengah masyarakat. Beliau terus mengajar dan memberi pemahaman tentang ajaran agama ke daerah pedalaman dari kitab yang ditulisnya.

Metode pengajaran yang dilakukan Mbah Rifai kala itu dengan cara bandongan. Hal ini tentunya mengingat kondisi masyarakat waktu itu yang masih butuh “dituntun” untuk memahami ajaran agama. Metode lain misalnya digunakan cara semaan dibaca bait per bait dan dilagukan, sehingga kitab yang berbentuk syair nadhom berhbahasa Jawa ini mudah dihafal dan diingat. Kegiatan itu terus berlangsung di surau-surau yang ada di desa-desa.

Utawi ilmu ushuluddin pertelane
Pertelane ilmu ushul yaiku ngaweruhi bab iman tinemune
Lan barang kang ta’alluq ing iya wicarane
Lan ngaweruhi ing Allah kewajiban
Lan muhale lan jaize kinaweruhan
Lan kaya mangkono ngaweruhi kewajiban
Hake para rusul muhale lan kawenangane
Iku nyata nuli aja kataqsiran
(penggalan nadhom Mbah Rifai tentang ilmu ushuluddin)

Kebanyakan karya Mbah Rifai tulis merupakan kitab-kitab tentang ushul, fikih, dan tasawuf. Hampir semuanya ditulis dalam bentuk nadhom berbahasa Jawa. Hal yang menarik dari kitab-kitab yang beliau tulis adalah tentang bagaimana kitab-kitab ini tidak hanya membicarakan tentang makna agama dan tauhid secara umum, tetapi juga menjadi sumber semangat dalam melawan pemerintah zalim dan kolonial. Pada tahap ini hemat penulis bahwa agama menjadi bagian dari aspek sosial masyarakat yang termanifestasi dalam gerakan sosial berbasis agama. Melalui karya serta aktivitasnya, Mbah Rifai paling tidak telah menggerakkan sebuah aktivitas intelektual sekaligus social movement dalam mengisi ruang khazanah pemikiran Islam.

Gerakan atau lebih tepatnya manifesto sikap Mbah Rifai terhadap penjajah dan pemerintah zalim waktu itu cukup membuat geram. Menurut Abdul Basit dalam tesisnya “Pemikiran dan Perilaku Politik Kiai Ahmad Rifai Terhadap Kolonial Belanda”, gerakan Mbah Rifai ini mampu mengguncang stabilitas politik di Jawa waktu itu.

Perlawanan Terhadap Penjajah

Tinggalkan Balasan