pada meja itu, manisku. setia menjadi daun-daun
yang memutuskan pergi dari rantingnya. sedang
angin masih tak mampu memerdekakan rindu.
syahdan, aku muntahkan kepalaku dari mulut
jendela kamarmu. berharap bayang-bayang
kenangan lebur bersama secangkir teh yang
kau seduh. senja itu.

:berharap murni dicintaimu, seperti menunggu
getah batu.
Cabeyan, 2021.
MENCINTAI SAPI
i/
tak usah menjadi lottrèngan untuk sekadar
menumbuhkan sekarung mawar di bibirku.
cukup duduk manis di kandang, bila aku ingin
meleburkan tanah kerontang, kau sedia
untuk datang: itu sudah lebih dari cukup.
ii/
baru kusadari isyarat senyum hangat matahari
ia menginginkan langkah kaki memecah gigil pagi
menuju bandungan puisi, mengambil rerumputan
untuk sepasang sapi. maka terberkatilah sakral cinta:
cabang kedua setelah Yang Maha.
