Kisah Mbah Syathori, Santri Kinasih Mbah Hasyim

Dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, Mbah Syathori justru menyekolahkannya di sekolah umum, yang mana masyarakat nonmuslim juga sekolah di situ. Sehingga, tak heran sikap merakyat dan terbuka Mbah Syathori menurun kepada anak cucunya. Salah satunya adalah KH Husein Muhammad, sosok ulama feminis Indonesia, yang merupakan cucu dari Mbah Syathori. Kiai Husein dikenal sangat aktif dan progresif mengenai hal yang berkaitan dengan plularisme, dan kerap hadir dan mengisi dalam dialog antaragama.

Masa hidup Mbah Syathori dihabiskan dengan mengajar di pesantren yang didirikannya. Dalam mendidik santri, Mbah Syathori dikenal sangat teliti. Bahkan, Mbah Syathoritidak akan keluar dari kelas sebelum para santri memahami apa yang diajarkan. Selain, mendedikasikan masa hidupnya dengan menggeluti kitab kuning, Mbah Syathori juga aktif dalam ranah sosial dan politik. Mbah Syathori terlibat aktif di NU pada tahun 1950-an hingga 1970-an, dan pernah menjadi Syuriah Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mbah Syathorijuga dikenal dengan langkah-langkah khusus dan progresifmya, yang sekarang dikenal dengan istilah pemberdayaan perempuan. Pada masanya, Mbah Syathori rutin menyelenggarakan pengajian keagamaan yang khusus bagi kaum perempuan. Saat hampir seluruh kiai Se-Cirebon mengharamkan penulisan Al-Qur’an dengan kapur tulis, dengan alasan khawatir bekas debunya terinjak-injak setelah dihapus, Mbah Syathori justru membolehkan dan melakukannya.

Dengan sosok dan kiprah seperti itu, sangatlah wajar masyarakat menangisi kepergiannya. Mbah Syathori wafat pada hari Kamis, 6 Februari 1969 M. Saat itu, Arjawinangun bak lautan manusia, sebagai ungkapan kesedihan masyarakat dengan menghantarkan kiai tercintanya ke maqbaroh. Dan, untuk mengenang beliau salah satu pesan Mbah Syathori yang menjadi pedoman para santri Dar al-Tauhid sampai detik ini adalah “sing wekel nyekel, sing belok nyaplok”. Al-fatihah untuk Beliau.

Sumber bacaan:

One Reply to “Kisah Mbah Syathori, Santri Kinasih Mbah Hasyim”

Tinggalkan Balasan