Cara berpikir yang tidak biasa, atau dengan pembalikan logika, rasanya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan tertentu, yang tentu sudah mahir dalam bermain-main dengan logika. Yang bukan orang cerdas tentu tidak biasa bermain-main dengan logika, menggunakan cara berpikir yang tak biasa.
Tapi rupanya komedian hebat tidak hanya bertumpu pada IQ yang tinggi. Studi lain menyebutkan, para komedian hebat biasanya juga memiliki kecerdasan emosional yang juga tinggi, yang oleh para ahli disebut emotional quotient atau EQ. Studi itu memang tidak membuat scoring. Namun, dipastikan para komedian memiliki kemampuan membaca situasi —misalnya situasi sosial atau kejiwaan audiens. Dengan begitu, para komedian bisa menentukan timing dan setting, kapan dan di mana suatu lelucon harus ditembakkan.

Maka, jika ada komedi atau lelucon yang kemudian justru menjadi bahan tertawaan orang ramai, seperti membandingkan atau menyandingkan antara Front Pembela Islam (FPI) dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, pasti itu bukan produk dari kecerdasan seorang komedian.
