Kritik Sosial dalam “Tilik”

Bu Tejo adalah karakter utama dalam film pendek tersebut. Film berdurasi 32 menit ini berhasil menghibur warganet, termasuk sutradara ternama, Joko Anwar. Melalui unggahan akun Twitter-nya, Joko Anwar mengatakan film pendek Tilik memiliki cerita yang segar. “Barusan nonton film pendek TILIK. Fresh, delightful. Setting ceritanya cukup brilian. Sederhana tapi gigit,” tulis Joko Anwar.

Kritik Sosial

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sampai awal hingga akhir terdapat adegan-adegan yang lucu sekaligus ironis. Keironisan adegan dalam Tilik itu disampaikan dalam wujud potret perilaku negatif yang tidak sesuai norma-norma di masyarakat. Adegan-adegan Tilik begitu mengalir karena mengambil latar realis yang ada dalam kehidupan sehari-hari kehidupan masyarakat perdesaan.

Dalam sebuah karya sastra, baik drama, prosa, ataupun puisi tidak bisa dilepaskan dari norma-norma di masyarakat. Norma-norma yang ada di masyarakat yang termuat dalam sebuah karya sastra disebut dengan nilai. Nilai-nilai atau peraturan-peraturan dalam masyarakat berlaku dan disepakati bersama-sama dalam kehidupan, sehingga Anda sering mendengar kata-kata baik dan tidak baik, boleh dan tidak boleh,sopan dan tidak sopan, dan sebagainya. Manusia tidak dapat hidup sendiri oleh karena itu sangat penting memahami nilai kelompok,masyarakat, negara, dan pribadi sendiri.

Ada beberapa nilai-nilai positif yang hidup di masyarakat desa yang disampaikan mulai menit pertama sampai terakhir.  Nilai sosial masyarakat desa yang positif pertama yang diangkat sekaligus menjadi judul cerita yaitu menjenguk (orang sakit).

Nilai sosial positif yang ada dalam film pendek Tilik di antaranya yaitu pertama, ibu-ibu warga desa berniat menjenguk kepala desa yang sakit, menyumbang orang yang tertimpa musibah, dan membantu temannya yang sedang mabuk. Nilai moral baik juga tak luput disajikkan dalam film ini. Nilai agama positif terlihat ketika Yu Ning yang tetap berkhunuzon kepada Dian di tengah ibu-ibu warga desa sedang bergosip

Tetapi, nilai-nilai negatif yang lebih ditonjolkan dalam film pendek ini. Beberapa nilai moral yang perilaku suami Bu Lurah dan Dian yang menjalin hubungan percintaan. Selain itu, nilai agama negatif yang menonjol, yaitu Bu Tejo dan Yu Tri juga bersuudzon kepada Dian dan menghibahkan Dian. Yang terakhir, nilai moral negatif yaitu Yu Sam yang berkarakter tidak punya pendirian.

Hampir seluruh durasi film pendek didominasi oleh ghibah mengenai Dian yang belum menikah dan bekerja tidak jelas, tetapi memiliki barang-barang mewah. Pernyataan dalam ghibah semakin terlihat benar ketika banyak warganet di desa semakin banyak yang nyinyir di medsos dan Bu Tejo melihat Dian muntah-muntah.

Tinggalkan Balasan