Laduni

Apa yang tidak diketahui para santri adalah kehidupan Hamdan setelah jam belajar selesai.

Ketika semua santri sudah terlelap di asrama, Hamdan diam-diam duduk di serambi rumahnya. Di hadapannya terbuka kitab-kitab besar yang bahkan belum pernah disentuh oleh santri sebayanya. Ayahnya, Kiai Abdul Karim, duduk di sampingnya dengan wajah tegas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Coba ulangi syarah yang tadi siang. Jangan hanya terjemah, tapi penjelasannya. Kalau salah, ulangi dari awal!” suara sang kiai keras dan tajam.

Hamdan menelan ludah. Suasana yang berbeda jauh dari kelas formal membuat tubuhnya tegang. Tidak ada kompromi di hadapan ayahnya. Kesalahan kecil saja membuatnya harus membaca ulang hingga larut malam.

Dan jika target hafalan tidak tercapai, hukumannya bukan main-main. Kadang ia disuruh menyalin kitab berlembar-lembar, kadang berdiri sambil membaca ayat tertentu, bahkan pernah tidak diizinkan tidur hingga tugasnya selesai.

Keringat bercucuran, mata perih, tapi Hamdan tidak berani membantah.

“Kalau kamu tidak bisa lebih baik dari santri lain, untuk apa kamu jadi putraku?” ujar Kiai Abdul Karim tegas.

Kalimat itu menusuk hati Hamdan, sekaligus menjadi cambuk. Ia sadar, posisi sebagai putra pengasuh pesantren bukanlah keistimewaan, melainkan beban berat.

Keesokan harinya, saat kembali ke kelas, Hamdan tetap seperti biasa. Tidur, malas-malasan, seolah tak peduli dengan pelajaran. Padahal di balik itu, ia sudah mengulang materi berkali-kali semalaman bersama ayahnya.

Santri lain mengira ia memiliki karamah ilmu laduni. Padahal yang sebenarnya terjadi, ia menanggung disiplin keras yang tak pernah diketahui siapa pun.

Ada kalanya Hamdan iri melihat teman-temannya bisa bermain bola setelah belajar, tertawa lepas tanpa beban. Sementara ia harus kembali berhadapan dengan kitab tebal dan ayah yang galak.

Namun, ia memilih diam. Tidak ada gunanya menjelaskan. Biarlah semua mengira ia mendapatkan ilmu begitu saja.

Suatu hari, ujian tahunan diadakan. Semua santri tegang, menunduk, berdoa sebelum lembar soal dibagikan.

Hamdan, seperti biasa, duduk santai. Beberapa santri meliriknya dengan rasa iri. “Pasti Gus Hamdan tinggal nunggu ilham. Kita yang susah payah belajar saja belum tentu bisa.”

Namun begitu ujian dimulai, Hamdan menulis cepat, tenang, dan lancar. Jawabannya rapi, penuh dalil, dan nyaris tanpa kesalahan.

Ketika hasil diumumkan, Hamdan mendapat nilai tertinggi. Santri-santri makin yakin, “Benar kan? Ilmu laduni!”

Tinggalkan Balasan