Langkah-langkah Sederhana Menjaga Bumi*

Kedua, perlunya mengurangi bungkus makanan ataupun minuman yang berbahan plastik. Manusia sering tidak menyadari bahwa saat ini terlalu menyukai hal-hal yang simpel. Saat jalan-jalan, manusia sekarang lebih suka membeli botol minum sekali pakai, atau minuman jumbo cup atau little cup berbahan plastik dari pada membawa botol tumbler dari rumah.

Begitu juga dengan makanan, banyaknya manusia yang tidak suka ribet untuk membawa kotak makan dari rumah yang reusable sehingga memilih makan di kafe, restoran, warung, dan tempat lainnya. Dari kacamata subjek konsumtif, sebenarnya hal ini tidak salah karena manusia yang sibuk ingin segala hal simpel, namun dari kacamata produsen ataupun seller makanan, kafe, restoran, warung makan, alangkah baiknya mengupayakan penggunaan piring, botol, sedotan, dan cup yang reusable bagi pembeli yang makan di tempat. Bagi pembeli yang menghendaki makanannya dibungkus, bisa menggunakan produk pembungkus makanan yang ramah lingkungan dan mudah terurai. Bukan berbahan plastik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketiga, mengganti penggunaan pembalut sekali pakai ke pembalut ramah lingkungan. Pembalut sekali pakai sangat sulit diuraikan. Tentu hal itu hanya akan menambah tumpukan sampah. Selain itu, pembalut wanita sekali pakai memiliki zat yang berbahaya, yaitu klorin. Ahli kesehatan Andrea Donsky, pendiri Naturally Savvy juga melakukan percobaan dan mendapatkan data bahwa klorin dapat menyebabkan masalah serius pada organ reproduksi jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Sudah saatnya kaum hawa beralih ke pembalut kain yang lebih sehat dan dapat digunakan berkali-kali. Saat ini pembalut kain yang reusable dan ramah lingkungan sudah banyak tersedia di toko online.

Keempat, memilah sampah. Kegiatan ramah lingkungan ini terlihat sepele. Namun, faedahnya luar biasa. Dengan pembiasaan memilah sampah organik dan non organik, sama halnya kita sedang mewujudkan kemerdekaan bumi. Sampah-sampah yang tidak dapat terurai dan punya potensi daur ulang, alangkah baiknya didaur ulang. Adapun yang tidak bisa didaur ulang dapat dibakar. Sedangkan, untuk sampah yang terurai, bisa kembali dimanfaatkan.

Kelima, pemanfaatan media tanam dari limbah dapur yang terurai. Dari alam kembali ke alam. Limbah-limbah dapur itu bisa diupayakan menjadi kompos ataupun media tanam. Selain itu, kotoran hewan peliharaan juga dapat diupayakan secara ramah lingkungan sebagai pupuk pengganti bahan kimia yang lebih alami. Kesuburan tanaman yang dihasilkan dari produk pupuk organik tentu akan jauh lebih sehat dari pada pupuk kimia.

Keenam, tidak membuang plastik ke laut, sungai ataupun tempat sembarangan. Bumi dan seluruh makhluk yang ada di muka Bumi ini berhak mendapatkan tempat teduh yang nyaman dan kelestarian alam. Sebagai makhluk penyumbang sampah plastik, manusia harus menyadari bahwa makhluk-makhluk lain mulai dari tumbuhan, hewan, dan lainnya juga ingin mendapatkan keleluasaan dalam bernapas. Tidak ada satu makhluk pun yang menginginkan napasnya terampas oleh plastik.

Dengan langkah-langkah sederhana ramah lingkungan di sekitar yang dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, sama halnya dengan berjuang untuk memerdekakan bumi. Jika bumi telah menjalankan kewajibannya untuk menyediakan kebutuhan manusia, sudah selayaknya sebagai manusia menjaga kelestarian alam sebagai wujud syukur kepada Allah Swt. Wallahu a’lam bis showab.

*Naskah peserta Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri 2024 dengan judul asli “Mewujudkan Kemerdekaan Bumi Melalui Ekologi Manusia Ramah Lingkungan”.

Tinggalkan Balasan