Lapoa: Laboratorium Toleransi di Tengah Gelombang Polarisasi

Bagi Pak Gede, toleransi bukanlah teori yang dipelajari dari buku atau ceramah, melainkan laku hidup sehari-hari. Di Lapoa, perbedaan bukan sumber jarak, melainkan jembatan yang menghubungkan manusia satu sama lain.

Lapoa kini tak hanya dikenal sebagai desa produktif dalam sektor pertanian, tapi juga sebagai model harmoni sosial lintas iman. Pada 2017, pemerintah daerah bahkan menjadikan Lapoa sebagai desa percontohan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), sebuah pengakuan atas kuatnya kohesi sosial masyarakatnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di tengah meningkatnya polarisasi identitas di Indonesia — sebagaimana dilaporkan oleh Setara Institute dalam survei 2023 — kisah Lapoa menjadi napas segar yang menunjukkan bahwa keberagaman bisa dikelola, bahkan dirayakan.

Fenomena itulah yang dipotret Tim 15 Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia yang sejak September hingga Desember 2025 nanti melakukan penelitian di daerah eks transmigrasi di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Program Ekspedisi Patriot sendiri merupakan kolaborasi antara Universitas Indonesia dan Kementerian Transmigrasi, dengan misi mengembangkan model pemberdayaan masyarakat, memperkuat kohesi sosial, dan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari solusi sosial.

Bagi Dian Sulistyowati, Ketua Tim 15 Ekspedisi Patriot UI, Lapoa bukan sekadar lokasi riset, tapi cermin kecil dari makna Indonesia itu sendiri. Desa ini menunjukkan bahwa integrasi nasional tak lahir dari kebijakan besar, melainkan dari hal-hal sederhana: berbagi air, membuka pintu, dan saling percaya. Di Lapoa, kebijakan publik menemukan bentuk paling manusiawinya — ketika pembangunan bukan hanya menciptakan kesejahteraan, tapi juga menumbuhkan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan