“Orang sudah lama di kota saling tukar identitas. Maka keduanya dijadikan sebagai sinergitas antara kota dan kampung,” katanya.
Pria yang pernah aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ini mengatakan bahwa kebudayaan yang baik adalah yang memadukan antara kebudayaan kota dan kampung. Karena, orang yang pulang ke kampung akan menelusuri nama-nama kampung. Di sinilah kemudian ada nilai nilai.

Sementara itu, Sofyan RH Zaid mengamini beberapa pernyataan dari Matroni Muserang. Tetapi, ia lebih mengajukan satu pertanyaan kritis kepada hadirin, yaitu apakah sastra hari ini adalah bangku panjang di sebuah pasar sebagai tempat bersantai atau menjadi kios yang harus menyediakan kebutuhan pembaca dan harus update.
