Kemudian telihat dia merekam voice note. Mungkin karena capai ngetik atau biar penjelasannya lebih cepat.
Diceritakan bahwa di masjid tempat dia biasa berjamaah, waktu salatnya tidak menentu. Habis azan masih diselingi zikiran atau selawatan. Kadang lagu Nisya Sabyan, kadang lagu dangdut yang liriknya diganti selawat. Meskipun kalimat-kalimat itu lama dilantunkan, tapi jamaah tetap belum menampakkan batang hidungnya. Sepi. Baru ketika salat didirikan, beberapa jamaah datang dengan santainya. Dengan status makmum masbuq.

Begitu pun ketika ada kegiatan-kegiatan keagamaan. Misal tahlilan, kompolan, atau kegiatan lainnya selalu saja tidak tepat waktu. Di jadwal pukul 07.00, jamaah baru datang pukul 07.30. Bahkan lebih. Sepertinya sudah menjadi tradisi.
Lalu teman saya yang akhirnya jadi aktivis NU secara kultural ini merenung: jangan-jangan kebiasaan Nahdliyin ini karena logonya. Di mana, di logo NU itu, terdapat sebuah tambang yang ikatannya kurang erat. Renggang alis longgar. Mungkin jika tali tambang itu dieratkan, kebiasan selow Nahdliyyin bisa lebih disiplin.

Sebenarnya yang salah bukan logo NU-nya, tapi ikatan tambangnya (tampar, Madura) yang kurang seret/kenceng, wkwkekkkk….