Mabuk Agama dan Pasar Spiritual

Dalam pandangan Clifford Geertz, pesantren adalah “penjaga ortodoksi” yang berperan menjaga kesalehan masyarakat. Namun di tengah perubahan zaman, tantangan muncul ketika penghormatan kepada guru bergeser menjadi kultus personal.

Kiai memang mulia, tetapi ketika murid berhenti berpikir dan hanya memuja, maka pesantren kehilangan jiwanya. KH Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menulis bahwa ilmu tanpa akhlak menyesatkan, dan akhlak tanpa ilmu menutup akal. Maka pesantren seharusnya menjadi ruang dialektika antara iman dan nalar, bukan ruang pembiusan spiritual.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Santri sejati bukan hanya yang hafal kitab, tetapi yang mampu memahami maknanya dengan kritis dan rendah hati. Mabuk agama di lingkungan pesantren tidak berarti maksiat, tetapi ketika santri berhenti berpikir dan merasa cukup dengan kesalehannya sendiri.

Santri di Era Digital

Era digital melahirkan santri baru. Mereka belajar agama dari video satu menit, kutipan singkat, dan ustaz viral di media sosial. Dakwah menjadi konsumsi cepat, seperti minuman energi: menguatkan sesaat tapi melemahkan dalam jangka panjang.

Fenomena ini melahirkan generasi yang fasih mengutip tapi malas berpikir. Mereka hafal dalil tapi kehilangan konteks. Jika pesantren terseret arus ini, maka Indonesia akan kehilangan benteng nalar yang selama ini menjaga keseimbangan antara iman dan akal.

Ujian Kesadaran

Indonesia adalah negeri dengan ribuan pesantren, ratusan etnis, dan beragam agama. Dalam keberagaman ini, kemabukan agama menjadi ancaman serius. Fanatisme yang menolak perbedaan menjelma menjadi kekerasan simbolik yang mengikis nilai kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan