MALAM UTUSAN MEMBAWA PESAN
Air mata membasahi tahun demi tahun
Mengaliri hamparan gurun pasir
Menelusup ke rekah-rekah tandus tanah Makkah
Hingga tertilam dalam tidurnya
Lalu menguap ke langit pertama
Terus menembus sidratil muntaha

Hati berperih tak terperikan
Tubuh diriba nyawa melayang
Datang utusan membawa pesan
Menghibur kalbu tersedu sedan
Malam gulita tanah berpasir
Bertunggang buraq hendak menyisir
Tuju menuju Masjid Al-aqsha
Menambatkan tembok ratapan
Tiba beruluk menyapa salam
Berbudi sani berlakon imam
Para anbiya berjajaran
Penutup utusan diagungkan
Masih berlalu buraq melaju
Langit dunia akan dituju
Jibril beruluk pintu diketuk
Terbuka pula disambut gana
Laju berlaju tangga berlangit
Menguluk salam ketuk mengetuk
Bertukar senyum berjabat tangan
Aduhai manis sebuah perjumpaan
Tinggi meninggi di langit tujuh
Habislah sudah tangga yang ampuh
Menaik tuju langit muntaha
Bertahiyat pada Tuhan Yang Esa
Bersahut salam hangat dipandang
Bersaksi malak ucap syahadat
Bersaksi Tuhan Semesta Alam
Dan s’orang abdi utusan
Utusan menadah madah
Pada cawan-cawan budi
limpah meruah di pelataran langit
ditadahnya kembali perintah
limapuluh kali hadap ibadah
Utusan kembali membawa wejang
titip sang Nabi pada yang datang
supaya ibadah lekas ditandang
tiada lengang tiada rumpang
Pinta digerus berlumat rahmat
ditempa kesabaran yang amat agung
sudahlah pinta lima terikat
kembali berpulang bawa syariat
Malang, 16 Januari 2026.
TEMBANG ZIKIR
Geladak Nuh berlayar
Pada laut tubuh yang keruh
Menjamah ombak yang mekar
Mengaram suci yang pasi
Payung harakat mendekat
