Duhai semua guru peradaban, ajari aku membaca
Duhai semua guru bangsa, ajari aku menangis
Duhai semua guru budi, ajari aku tersenyum
Duhai semua guru sufi, ajari aku tertawa
MENUNGGU JIBRIL (2)

Tapi siapa lagi yang mampu mengosongkan hati pada gua yang berdinding angin beratap cahaya berlantai debu basah. Tapi masih adakah yang mau mencari diri pada gua yang akrab dengan sunyi yang jauh dari segala riuh. Tapi masih adakah yang datang tanpa dari dan tiba tanpa tuju— sebuah kekosongan yang cuma ada untuk menunggu segala tiba
Sedang Jibril masih bersayap. Awan-awan bergerak mengarak. Ke mana lagu akan didendangkan? Ke mana kidung akan dinyanyikan?
Sedang kita menunggu pun tidak. Kita adalah penyanyi tanpa nada, lagu tanpa irama. Sedang kita tak pernah bersekutu dengan waktu. Kita adalah binatang yang berlaksa mau. Kita adalah pemahat berjuta hasrat
