Masjid yang Lupa Menjadi Rumah

Masjid dan Krisis Kemanusiaan

Masjid hari ini menghadapi krisis yang tidak kasat mata: krisis keterbukaan. Banyak masjid kehilangan fungsinya sebagai pusat kemanusiaan. Ia hidup dalam kemegahan fisik tetapi miskin dalam makna sosial. Di beberapa tempat, masjid lebih sibuk membangun pagar daripada menumbuhkan empati. Padahal, jika kita menelusuri akar sejarahnya, masjid selalu menjadi jantung peradaban Islam, tempat di mana ibadah bertemu dengan kemanusiaan, dan zikir menyatu dengan solidaritas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Masjid seharusnya tidak hanya menjadi tempat yang mengajarkan tentang Allah, tetapi juga tentang makhluk-Nya. Ia adalah ruang di mana yang lelah bisa bersandar, yang gelisah bisa berdiam, dan yang lapar bisa menemukan tangan yang mau berbagi.

Kembali ke Ruh Rumah Allah

Tragedi di Sibolga seharusnya menjadi cermin bagi seluruh umat. Sebab, yang rusak bukan hanya perilaku lima orang pelaku itu, melainkan kesadaran kolektif kita yang perlahan melupakan makna “rumah Allah.” Rumah Allah, dalam hakikatnya, bukan hanya milik mereka yang rajin berjemaah, tetapi juga milik setiap manusia yang datang dengan niat baik, bahkan hanya untuk beristirahat.

Masjid tidak seharusnya menolak kehadiran manusia, karena setiap manusia adalah tamu Allah. Menutup pintu bagi mereka berarti menutup kesempatan bagi diri kita untuk memahami rahmat Tuhan yang tanpa batas.

Jika Nabi saja membiarkan musafir tidur di masjid, mengapa kita yang mengaku pengikutnya justru mengusir? Jika masjid di masa Rasulullah menjadi rumah bagi semua, mengapa hari ini masjid yang dibangun dari sumbangan umat berubah menjadi tempat yang hanya ramah bagi sebagian?

Tinggalkan Balasan