Ketiga, jebakan echo chamber. Dilansir dari GCFLearn (2019), echo chamber atau ruang bergema adalah adalah lingkungan di mana seseorang hanya menemukan informasi atau pendapat yang mencerminkan dan memperkuat pendapat mereka sendiri.
Misalnya, ketika seseorang sudah mengetahui bahaya merokok. Mereka mencoba mencari informasi tandingan untuk meyakinkan diri bahwa rokok tidaklah berbahaya. Mereka akan mengulik informasi apapun di internet untuk mendukung argumentasi bahwa rokok boleh dikonsumsi. Sehingga yang terjadi adalah, mereka tetap bisa berargumentasi dengan kepercayaan tingkat tinggi meski sebenarnya sudah tahu bahaya tentang rokok.

Kurang lebih tiga hal di atas menjadi pemicu kenapa orang di zaman ini semakin culas untuk mengolah informasi. Banyak yang menjadi sok tahu ketimbang upaya penjelasan dari para pakar. Saat ini, influencer pun lebih dipercaya omongannya ketimbang seorang profesor yang sudah jelas memiliki kapasitas mumpuni untuk menjelaskan sebuah hal.
Agar tidak terjebak dengan keadaan ini, maka penulis memberikan beberapa saran. Pertama, selalu cek dan ricek terhadap berita apapun yang diterima baik itu kredibilitas sumber dan keontetikannya.
Kedua, hendaknya meninjau ulang omongan inlfuencer media sosial, apakah sudah sesuai dengan pendapat para pakar atau belum.
Ketiga, menghindari echo chamber dengan cara seobjektif mungkin dalam memandang sebuah persoalan, bukan dengan kacamata subjektif yang menjatuhkan diri dalam sudut pandang sempit.
Data buku:
