Selesai nyantri di Jamsaren, Solo, Jawa Tengah, Mbah Arwani melanjutkan perjalanan mondoknya ke Jawa Timur, tepatnya di Pesantren Tebuireng, Jombang, di bawah asuhan KH Hasyim Asy’ari. Di Tebuireng inilah Mbah Arwani mulai mendalami qiraat sab’ah. Di bawah asuhan KH Hasyim Asy’ari, beliau ngaji kitab Sirah al-Qari karya Abdul Qasim Ali ibn Utsman ibn Muhammad. Tentunya di samping mendalami qiraat sab’ah, Mbah Arwani juga ngaji ilmu dan kitab lainya. Nyantri di Tebuireng ditempuh selama kurang lebih empat tahun.
Setelahnya, Mbah Arwani melanjutkan ke Pesantren al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, di bawah asuhan ulama besar ahlul quran dan qiraat sab’ah, KH Muhammad Munawwir. Mulanya Mbah Arwani ingin langsung mendalami qiraat sab’ah kepada KH Muhammad Munawwir. Akan tetapi, hal itu belum bisa di-iya-kan, karena syarat ngaji qiraat sab’ah haruslah hafal 30 juz. Akhirnya, Mbah Arwani dengan ketawadhuanya berhasil menghafalkan Al-Quran dalam kurun waktu dua tahun.

Setelah hafiz, barulah Mbah Arwani mendalami qiraat sab’ah dengan ngaji kitab al Shatibiyyah selama sembilan tahun hingga khatam. Berdasarkan amanat dari KH Muhammad Munawwir untuk mengamalkan ilmunya dengan bil nazar (menjaga dan mengajarkan alquran) dan bil ghaib (melanggengkan hafalan), Mbah Arwani pun boyong.
Menulis Kitab Faidh al Barakat fi Sab’ al Qiraat.
Dari perjalanan panjang nyantrinya, dapat kita ketahui bahwa Mbah Arwani adalah ulama yang memiliki kredibilitas dalam ilmu-ilmu agama (ushuluddin), khususnya bidang qiraat sab’ah. Mbah Arwani adalah ulama yang sangat produktif, baik dalam murojaah Al-Quran maupun pengajarannya, dan juga menulis serta men-tashih kitab para ulama. Salah satu maha karyanya yang menjadi pedoman hampir di seluruh pondok pesantren Al-Quran di Indonesia dalam belajar qiraat sab’ah adalah kitab Faidh al Barakat fi Sab’ al Qiraat.
Kitab Faidh al Barakat fi Sab’ al Qiraat ini ditulis oleh Mbah Arwani dengan adanya latar belakang. Dalam tulisan-tulisan yang penulis baca, setidaknya ada dua faktor yang melatarbelakangi penulisan kitab tersebut.
Pertama, ketika mendalami qiraat sab’ah dengan belajar as Shatibiyyah, Mbah Arwani mengalami kesususahan dalam memahami dan mendalami. Sehingga terbesit niat untuk mengarang metode belajar qiraat sab’ah yang lebih praktis.
Kedua, dalam mukadimahnya dijelaskan, pasca mendalami qiraat sab’ah dengan KH Muhammad Munawwir, Mbah Arwani ingin mendokumentasikannya; mencatatkan kenangan dan pengalamanya belajar tersebut agar tidak hilang.
Kitab Faidh al Barakat fi Sab’ al Qiraat ditulis secara lengkap lengkap, mencakup 30 juz, dan terbagi menjadi tiga jilid, dengan tujuan agar tidak terjadi kerancuan dalam mempelajari qiraat sab’ah. Qiraat sab’ah merupakan ilmu mengenai cara baca Al-Quran berdasarkan riwayat sahih tujuh imam (Abu ‘Amr bin ‘Ala, Ibnu Katsir, Nafi al Madani, Ibn Amir asy Syami, Ashim al Kufi, Hamzah al Kufi, dan al Kisa’i al Kufi). Hal itu juga disinggung Mbah Arwani dalam kitabnya.

Salah satu Ulama’ di Nusantara yang mencetak manusia-manusia qurani.
Semoga kita kecipratan bwrkahnya
aamiin ya rabbal alamin🤲🤲
Semoga kita mendapatkan barokahnya..
aamiin ya rabbal alamin🤲🤲