Melacak Jejak Islam di Tulang Bawang

Setelah dari makam Tb Muhammad Ali, kami melanjutkan ziarah ke makam Tb Mushofa. Letak makam berada di tengah-tengah perkebunan karet, di tepi sungai yang jauh dari pemukiman penduduk. Jalan menuju makam masih bebatuan, namun sudah bisa dilewati mobil. Di lokasi makam sudah ada mushala dan ruang untuk juru junci. Meski sederhana, namun susana cukup asri, dengan pagar dan konblok yang rapi.

Menurut penuturan Pak Sholeh Taufiq, tokoh masyarakat yang mengantar kami ke makam, bangunan makam itu dibiayai oleh seorang peziarah dari Rawajitu dan beberapa di antaranya atas sumbangan Pemda Tubaba. Menurut cerita Pak Sholeh, makam ini mula-mula ditemukan oleh Kiai Nur Kholis, seorang transmigran dari Jawa yang baru masuk daerah tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada tahun 1973, Kiai Nur Kholis didatangi oleh seseorang bernama Mustofa. Orang tersebut mengaku tinggal di suatu tempat dan menyuruh Kiai Nur Kholis mengunjungi tempat tersebut. Kiai Nur Kholis segera mendatangi tempat dengan ciri-ciri yang disebut oleh tamu yang mengaku bernama Mustofa. Teryata tempat tersebut hanya gundukan tanah yang berada di antara rumpun bambu. Setelah dibersihkan, ternyata gundukan tanah tersebut adalah makam. Sejak saat itu, kyai Nur Kholis merawat makam tersebut hingga banyak peziarah mendatangi makam tersebut. Bahkan ada keluarga dari Banten yang datang dan mengaku dzuriyah dari Syekh Tb Mustofa.

Selain kedua makam tersebut, sebanarnya banyak makam ulama dan penyebar Islam yang dikeramatkan di Tulang Bawang. Ini terjadi karena Tulang Bawang merupakan salah satu pintu masuk Islam di Lampung. Berdasarkan buku Napak Tilas Jejak Islam Lampung karya Muhammad Chandra Syahputra, ada tiga pintu masuk Islam di Lampung. Pintu Barat berasal dari Minangkabau (Kesultanan Pagaruyung); jalur Utara, Islam masuk ke Lampung dari Palembang; dan jalur Selatan dari Banten.

Berdasarkan jejak makam yang ada, jalur Banten banyak mempengaruhi Islam di Tulang Bawang. Bahkan, secara mitologis ada hubungan permusuhan antara Tulangbawang (Pagardewa) dengan kesultanan Palembang.

Berdasarkan cerita tutur yang berkembang di masyarakat, keretakan hubungan antara Pagardewa dengan Palembang terjadi ketika Tuan Rio Mangkubumi sebagai Raja Pagardewa dibunuh oleh sultan Palembang, sehingga menimbulkan dendam bagi anak keturunannya. Salah satu anak Tuan Rio Mangkubumi yang ingim membalas dendam atas kematian ayahnya adalah Minak Ratu Jurit yang juga dikenal dengan Minak Kemolo Bumi, yang akhirnya menjadi penyebar Islam di Pagardewa.

Dikisahkan, untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Minak Jurit berguru pada ulama di Banten. Saat belajar itulah, dia diuji oleh Sultan Banten disuruh tidur dengan ipar istri Sultan. Tapi selama tidur bersama Istri-istri Sultan, tak ada satu pun yang dijamahnya. Atas keberhasilan menerima ujian tersebut, Minak Jurit mendapat hadiah berangkat ke Mekkah untuk menunaiakan ibadah haji dan belajar ilmu agama.

Tinggalkan Balasan