Jleb… saya termangu dan kehabisan kata-kata mendengar penjelasan dan penegasan sikap Gus Dur. Kami semua diam, hening. Suasana makin senyap karena saat itu kami hanya ngobrol berdua. Hanya ada beberapa ajudan dan beberapa orang yang berada beberapa meter dari tempat kami ngobrol. Saya tidak tahu apakah mereka mendengar obrolan kami, tapi suasana saat itu benar-benar hening setelah Gus Dur menyatakan sikapnya yang tegas dan jelas.
Setelah hening beberapa saat, Gus Dur kembali bicara. Beliau menceritakan langkah-langkah yang akan diambil untuk melawan manuver politik yang akan memakzulkannya. Termasuk, rencana menerbitkan dekrit sebagai upaya terakhir menghadapi manuver politik dan menyelesaikan ketegangan yang terjadi saat itu. Tanggal 23 Juli 2001, dekrit itu benar-benar dikeluarkan Gus Dur, dibacakan oleh Juru Bicara Presiden, Yahya Cholil Staquf. Dekrit ini menjadi puncak perlawanan terhadap politisi yang ingin memakzulkannya.

Peristiwa itu sangat membekas bagi saya, bahkan hingga saat ini. Dari ini saya melihat, bagaimana Gus Dur meneguhkan sikap menjaga nilai-nilai keadilan dan menegakkan konstitusi. Kalau saja saat itu Gus Dur mau berkompromi dan menerima syarat-syarat yang diajukan, mungkin tidak terjadi drama pemakzulan sehingga kekuasaan Gus Dur “selamat” sampai akhir periode. Tapi Gus Dur melawan demi menjaga agar kekuasaan benar-benar dapat menjadi alat mensejahterakan umat sesuai kaidah “tasarruful imam ‘alal ra’iyah manuutun bil maslahah” (kebijakan pemimpin harus mengacu pada kemaslahatan umat).
Jelas di sini terlihat, Gus Dur tidak menerima begitu saja ketika ada upaya pemakzulan dirinya. Gus Dur melawan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Perlawanan Gus Dur bukan karena ingin mempertahankan kekuasaan dan jabatan yang dimilikinya, tetapi untuk menjaga nilai-nilai keadilan dan penegakan konstitusi. Gus Dur melihat ada indikasi perebutan kekuasaan untuk disalahgunakan, sehingga dia berusaha menjaganya dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Perlawanan Gus Dur berhenti, ketika risiko terburuk mengadang di depan mata, yaitu adanya potensi pertumpahan darah di antara sesama anak bangsa. Karena, bagi Gus Dur, yang terpenting dari politik adalah kemanusiaan. Jika politik sudah mengancam kemanusiaan, maka harus dihentikan. Dan Gus Dur rela melepas semuanya itu, meski dengan perasaan sedih. Saya tahu kesedihan Gus Dur saat itu bukan kerena kehilangan jabatan sebagai Presiden, tapi karena tahu adanya pontensi terjadinya distorsi fungsi kekuasaan. Dan saat ini apa yang dikhawatirkan Gus Dur itu terbukti.
Dua puluh empat tahun lebih peristiwa tersebut berlalu, tapi bagi saya ini menjadi cermin jernih untuk melihat peristiwa saat ini. Apa yang dilakukan Gus Dur dapat menjadi inspirasi dalam menyikapi konflik yang terjadi saat ini. Gus Dur tidak membela kekuasaan atau mempertahankan jabatan. Yang dilakukan Gus Dur adalah membela nilai dan aturan main, agar kekuasaan dapat dipergunakan secara konsisten untuk membangun kemaslahatan umat, bukan sekadar alat memperkaya diri.
Semoga kita dapat belajar dari apa yang terjadi dan dialami Gus Dur, dan kita dapat meneladan apa yang sudah dilakukan Gus Dur, meski dengan risiko yang pahit dan sulit.
Ila Ruukhi Gus Dur, Al Faatihah…
