Para pemikir muslim dapat menghasilkan banyak karya yang sangat berharga bagi generasi setelahnya. Motivasi beramal untuk kehidupan setelah mati adalah yang mendorong para pemikir, fuqaha, dan ulama mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk menghasilkan karya yang dapat dijadikan sebagai ilmu yang bermanfaat. Semakin banyak karya yang bermanfaat dihasilkan, maka bertambah banyak pula investasi seorang muslim dalam amal jariyah setelah meninggalkan kehidupan dunia.
Namun, setiap peradaban ada umurnya. Salah seorang filosof muslim mengatakan bahwa sebuah peradaban akan berlalu seperti manusia yang hidup sampai mati. Peradaban dunia tidak ada yang kekal. Artinya, semua peradaban akan diganti oleh peradaban yang lain dalam memimpin dan mengendalikan dunia. Pada zaman keemasan peradaban Islam telah dilahirkan banyak ilmuan dan para pemikir yang andal. Dan melalui buah pikiran mereka kaum muslimin menjadi pemimpin dunia dengan kekuasaan 2/3 dunia.

Sekian lamanya Islam melakukan penyebaran ajarannya, hingga lebih dari 14 abad lamanya. Tentunya, dari masa perjuangan tersebut telah menorehkan banyak hasil yang dapat dirasakan oleh dunia saat ini walaupun sudah tidak ada lagi kekuasaan Islam yang mutlak. Karena Islam dalam ekspansinya, tidak hanya mengambil keuntungan materi dari daerah yang dapat dikuasai, melainkan ikut membangun dan memajukan peradaban yang ada dan tetap toleran terhadap budaya lokal yang ada.
Para tokoh Islam klasik yang telah membangun peradaban di masa itu, dan tidak dilakukan oleh orang-orang Barat pada masa kegelapan, adalah dengan mempelajari dan mempertahankan peradaban Yunani kuno, serta mengembangkan buah pemikirannya untuk menemukan sesuatu yang baru dari segi filsafat dan ilmu pengetahuan.
Seorang pemikir orientalis Barat, misalnya Gustave Lebon, mengatakan, bahwa orang Arablah yang menyebabkan kita mempunyai peradaban, karena mereka adalah imam kita selama enam abad. Hingga peradaban Islam telah memberi kontribusi besar dalam berbagai bidang, khususnya bagi dunia Barat yang saat ini diyakini sebagai pusat peradaban dunia.
Kontribusi besar tersebut antara lain: pertama, sepanjang abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya kaum Muslim dalam bidang filsafat, sains, dan sebagainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, khususnya dari Spanyol. Penerjemahan ini sungguh telah memperkaya kurikulum pendidikan dunia Barat.
Kedua, kaum muslimin telah memberi sumbangan eksperimental mengenai metode dan teori sains ke dunia Barat. Ketiga, sistem notasi dan desimal Arab dalam waktu yang sama telah dikenalkan ke dunia barat. Keempat, karya-karya dalam bentuk terjemahan, kususnya karya Ibnu Sina (Avicenna) dalam bidang kedokteran, digunakan sebagai teks di lembaga pendidikan tinggi sampai pertengahan abad ke-17 M.
