Menurut Al-Zastrouw, upacara ini memiliki nilai yang sangat penting dalam menghadapi krisis lingkungan. Ini dapat dilihat dari prosesi upacara adat, di antaranya melepas hama tanaman yang mengandung makna hama tidak harus dibunuh dan dimusnahkan, tetapi dikendalikan, karena kalau dimusnahkan, akan menggunggu ekosistem alam.
Apalagi kalau pemusnahan hama tersebut melalui pestisida, maka akan dapat merusak alam, karena menebar racun kimia. “Melalui upacara ini kita dapat menggali pengetahuan lokal masyarakat Sunda untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari kehidupan manusia. Kita dapat belajar dari masyarakat adat dalam mengelola linkungan,” kata Zastrouw.

Sementara itu, Doktor Ari Prasetiyo, salah satu delegasi dari dari MAC UI, yang juga sekaligus menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (PPKB FIB UI), menambahkan, hadirnya tali dalam ritual pesta merupakan simbolisasi menghubungkan kebersamaan antarmasyarakat desa. Pesta Dadung kali ini dirasa sangat meriah karena kerinduan masyarakat pada acara ini setelah dua tahun tidak diadakan dikarenakan pandemi Covid-19.
