Ilustrasinya sederhana; ketika aku melihat Ibnu Umar yang kulihat adalah Umar, ketika aku melihat Umar aku lupa Ibnu Umar. Jika dipraktikan dalam keseharian yang dilihat, ketika aku melihat uang yang terlihat Allah, ketika aku melihat atau mengingat Allah aku lupa uang. Sedemikian mudah ilustrasinya, tapi belum tentu mudah mengamalkannya.
Definisi inilah yang perlu ditawarkan kepada pemeluk agama. Ketika seseorang masih menomorsatukan selain Allah, atau menduakan, maka akan berkurang syahadatnya, bukan keislamannya. Artinya, seseorang tidak menyadari atau berkurang kesadarannya akan terlibatnya Allah dalam segala aktivitasnya karena tidak menyaksikan peran Allah. Sederhananya lalai.

Dalam koridor konsep semacam ini, tensi ketegangan antarpemeluk agama bisa dikurangi untuk menghindari kata dihilangkan. Selain itu, konsep bahwa apa yang kita pahami tentang tuhan hanyalah konsep belaka, spekulasi, bisa diistilahkan dengan tuhan “t” kecil. Ibnu Arabi mengistilahkannya tuhan tasybih, sebagai lawan dari Tuhan Tanzih. Tuhan dengan segala kemisteriusannya adalah Tuhan dengan “T” besar. Filsafat menyebutnya Tuhan Transenden dan Tuhan Immanen.
Kesadaran demikian akan menumbuhkan sikap inklusif. Pada tataran tertentu, semua manusia tidak mampu menggapai Yang Tertinggi, Yang Tanzih, Yang Transenden. Jadi, tak usah sok.
ilustrasi: mural di jl gunung pongkor bogor/mukhlisin.
