Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita

Buku cetakan Mizan Pustaka ini menawarkan sekolah sebagai pangkalnya, model sekolah bisa di pulihkan kembali sebagai tempat mendidik siswa untuk menjadi manusia yang merdeka, yang masih memelihara atau bahkan dapat mengembangkan spritualitasnya hingga setinggi-tingginya, yang dapat mencapai kebahagiaan karena kemampuannya menguasai diri, dan dalam kapasitasnya untuk memberikan kontribusi positif sebesar-besarnya bagi lingkungan yang di dalamnya ia hidup dan berada. Dalam konteks inilah, buku yang ada di hadapan pembaca ini seharusnya dibaca dan ditelaah.

Komposisi isi buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian I Falsafah Pendidikan, bagian II Konsep dan Metode Pendidikan, dan bagian III Falsafah Pendidikan Islam. Pada bagian awal berangkat dari sebuah pertanyaan, apa tujuan sistem pendidikan kita? Penulis menjawab dengan menyuguhkan Pasal 31 Ayat 3 Undang-Undang Dasar kita yang telah diamandemen maupun UU Sisdiknas 2003, Sesungguhnya telah dengan jernih menetapkan bahwa segenap proses pendidikan haruslah ditujukan untuk pengembangan keseluruhan potensi manusia demi mencapai kehidupan sejahtera, baik secara fisik, mental, dan spiritual, dan bukannya hanya melahirkan warga negara yang baik (good citizens) apalagi sekadar membangun angkatan kerja yang kompetitif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kelebihan buku ini adalah menawarkan keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ dalam sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang yang sukses umumnya bukanlah yang semata-mata memiliki IQ tinggi, melainkan justru EQ yang tinggi. EQ terkait erat dengan perasaan dan bersifat praktis, sedangkan SQ bersifat ruhani dan reflektif.

Pada bagian kedua, Haidar Baqir mengupas masalah kurikulum berbasis kompetensi, “Kurikulum yang benar bertujuan menyiapkan anak didik untuk meraih kesejahteraan dan kebahagiaan hidup (well being), yang seharusnya menjadi tujuan puncak segenap pendidikan.” Kalau melihat kurikulum di Indonesia termasuk yang paling padat di dunia, maka perlu dilakukan seleksi dan pengurangan beban dalam hal adanya bahan-bahan kurikulum yang selama ini dilihat tak memiliki relevansi dengan kompetensi-kompetensi dasar.

Bagian yang ketiga, tentang Falsafah Pendidikan Islam, mengupas bagaimana pendidikan menurut Islam. Di sini penulis mengutip QS Al-Baqarah [2]: 156, sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita kembali.

Dari redaksi ayat ini penulis menyimpulkan bahwa perjalanan menuju Allah berlangsung melalui dua alam lain, yakni alam berzakh-malakuti (alam antara ruhani dan material) dan alam al-qiyamah.

Tinggalkan Balasan