Masyarakat Madura dikenal memiliki etos kerja yang luar biasa. Ulet, tekun, dan pantang menyerah. Namun, mereka juga menyandang stereotipe. Stigma tersebut sudah muncul sejak zaman kolonial.
Ada banyak literatur yang menuliskan stereotipe buruk tentang suku Madura. Contohnya adalah buku Across Madura yang ditulis oleh Kess Van Dijk (1995) dan Streotypes of The Madurese karya De Jonge berdasarkan catatan, laporan, jurnal, dan laporan besar yang ditulis pada era kolonnial Belanda di Indonesia.

Muhammad Syamsuddin tidak kesulitan mencari data terkait Madura. Sebab, sudah ada penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya seputar Madura, baik dari sisi ritual keagamaan, kerajaan, hingga letak geografsi. Semuanya kemudian ditulis menjadi satu kesatuan ke dalam buku yang berjudul History of Madura.
Sebagai pembuka, penulis berusaha mengulas sejarah singkat Madura, kondisi geografis, sistem perekonomian, dan tradisi merantau masyarakat Madura. Disebutkan, dalam makalah seminar yang ditulis oleh Siti Maisaroh, dia menyebutkan bahwa migrasi orang Madura dimulai sekitar tahun 1870 sampai 1930 ketika usaha perkebunan berkembang pesat di Pulau Jawa. Fakor lain adalah iklim panas serta tanah yang tandus yang membuat wilayah Madura tidak cocok dijadikan perkebunan atau pertanian. Namun, Madura cocok untuk peroduksi garam. Dalam catatan sejarah, Madura telah menjadi penghasil sekaligus pengekspor garam. Oleh karenanya, Madura disebut-sebut sebagai Pulau Garam (27).
