EKSTASI WAKTU
rasanya bau kemarin terkuak di ketiak bunga itu
bau harum cintamu, aku begitu menyukainya
keindahan dengan rahasia memerah dan fana

bolehkah kucium lagi rindumu? rasanya ruhmu selalu
mengantarku ke mimpi, tiba-tiba aku jadi seperti ekstasi
semua nyawa muntah ke tanah dan menjadi waktu
rasanya bau kemarin masih tertinggal di mulutku
kukecap ludahku untuk berpuasa dalam suasana
kuulurkan kedua tangan meraihmu dalam bayangan
kau tegak di depan wajahku, kau yang tak ingin
cepat surut di darah, di nadi ingatan
aku merindukan saat-saat memasuki bau-bau cintamu
dzikir itu lagi seperti gema genta di jauh surau
seperti di atas rerumputan tidurku
ketika mendengar senandung angin dari lagumu
