caver Buku

Membaca Kemurnian Buya Syafi’i Memotret Zaman

Bagian Pertama diberi judul “Autensitas Agama untuk Kemanusiaan” yang di dalamnya terdiri dari 6 artikel yang semuanya saling berkaitan satu sama lainnya. Bagian Kedua, di bawah judul “Artikulasi Nilai Islam dalam Politik” terdiri dari 8 srtikel, di antaranya berjudul “Etika Qur’ani dalam Berpolitik”. Kemudian Bagian Ketiga, “Bercermin dalam Kegalauan Bangsa” terdiri dari 8 judul. Dan, Bagian Keempat, “Membangun Tanah Harapan Indonesia” terdiri dari 10 tulisan, seperti “Bung Hatta: Integritas Pribadi yang Luar Biasa.”

Yang menarik, dalam salah satu tulisannya Buya Syafi’i menggunakan cara bertutur. Pada halaman 25, misalnya, dia menuliskan, “Suatu pagi, 14 Desember 2002, Pak H M Yusuf Hasyim, pemimpin Pesantren Tebuireng, berkunjung menemani saya di kantor PP Muhammadiyah Jakarta. Singkat cerita, dia berbincang masalah pemerintahan pusat dan daerah yang kurang responsif terhadap tantangan.” Intinya, dari semua isi teks tersebut Syafi’I memberikan sumbangsih pemerintah peka dengan kejadian dalam negaranya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di dalam bukunya ini tergambar juga bahwa Buya Syafi’i mencita-citakan sebuah Indonesia yang egaliter secara sosial, ekonomi, dan politik, serta betul-betul demokratis. Ia memandang pemerintah harus bertanggung jawab kepada rakyat, salah satunya melalui penyelenggaraan pemilihan umum yang jujur dan adil, bebas dan tidak berpihak.

Buya Syafi’i Maarif merupakan sosok ulama dan ilmuwan, dan pendidik Indonesia yang lahir di Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatra Barat pada 31 Mei 1935. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden Word Conference on Religion For Peace (WCRP), dan pendiri Ma’arif Institute.

Tinggalkan Balasan