Esai “Pohon yang Luka”, membawa ingatan saya berlayar pada potongan kisah di kampung halaman. Di mana setiap musim hujan, orang-orang di kampung sering memangkas pohon besar. Kemudian dahannya ditanam mengelilingi ladang. Pohon adalah nyawa. Sakral bagi orang-orang di desa. Pohon harus dihormati. Begitu Putu Fajar berpesan di dalam esai ini. Celakanya, abad modern menempatkan pohon sebagai benda mati. Harus ditebang demi pembangunan. Pohon sumber bencana. Apalagi yang ada di sepanjang jalanan. Lagi-lagi pohon yang disalahkan.
Tidak cukup hanya pohon. Air menjadi makhluk paling menakutkan. Hampir setiap musim hujan, kota-kota besar di Indonesia mendadak membenci air. Peranan air di masa tradisional sebagai pembawa kesuburan dan kemakmuran perlahan mulai terkubur. Narasi tentang air yang negatif cukup akrab dalam keseharian. Air sudah disamakan dengan monster Hydra dalam mitologi Yunani. Monster yang bernapas racun, mempunyai kepala sembilan, dan menjadi penghuni mata air di Danau Lerna.

Selain itu, pembaca dipaksa untuk hadir kembali pada masa klasik. Air yang dipersonifikasi sebagai Dewa Wisnu, dewa pemelihara kehidupan dalam tradisi Hinduisme. Maka, tidak jarang kita menyaksikan ritus memuliakan air. Lihat saja misal seperti petani di Bali membentuk organisasi tradisional bernama Subak (hlm. 5). Persoalan sebenarnya bukan ada pada air. Tetapi, ada pada konsep pembangunan yang direncanakan pemerintah. Tata kelola kota yang masih minus, perilaku membuang sampah ke sungai, dan penebangan pohon juga salah satu faktor mengundang banjir ke kota-kota besar.
