Membaca Setting Politik Menjelang Pewahyuan Qur’an (2)

Sementara memegang janji di kalangan orang-orang Arab merupakan salah satu kebajikan tertinggi lainnya yang paling khas. Sebagaimana yang dapat diduga, kebajikan utama ini berhubungan intim dengan masalah pertalian darah, dan dalam kebanyakan kasus dipraktikkan dalam ikatan kesukuan. Kebajikan memegang janji memanifestasikan dirinya dalam kerelaan seseorang untuk berkorban nyawa tanpa pamrih demi menmbela sesama anggota suku atau klan, karena secara primordial ia terikat janji dan kehormatan untuk melakukan hal tersebut.

Dalam skala yang lebih luas, nilai keteguhan memegang janji (dengan mempertimbangkan sulitnya kehidupan di padang pasir) terlihat sangat penting, serta dijelmakan dalam pakta-pakta antarsuku dan institusi yang dikenal sebagai empat bulan suci, ketika seluruh pertikaian dan peperangan mesti dihentikan dalam rangka memberi kesempatan kepada para peziarah untuk melakukan ziarah ke kota-kota suci dan kepada para pedagang untuk melakukan perniagaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hal-hal yang bertalian dengan kehormatan (code of honor) di kalangan orang Arab, yang sebagiannya telah diungkapkan di atas, memiliki kedudukan penting sebagai latar historis untuk memahami berbagai gagasan moral Al-Quran. Nilai-nilai kesukuan Arab itu sebagiannya ditolak secara tegas oleh Al-Quran dan sebagian lagi diterima, dimodifikasi, serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan Islam. Lebih tegas lagi, nilai-nilai lama tersebut secara radikal telah mengalami transformasi dan tercerabut dari bentuk tradisional kehidupan kesukuan Arab.

Sisi lain dari kehidupan di Jazirah Arab adalah pertanian. Di samping Yaman, terdapat sejumlah oase di bagian barat Arabia yang pekerjaan utama penduduknya adalah bertani. Yang terpenting dari oase-oase ini adalah Madinah. Panenan utama daerah ini adalah kurma, tetapi tanaman pangan lain juga dihasilkannya.

Adalah menarik bahwa dalam perkembangan pertanian di Madinah maupun di oase-oase lain orang Yahudilah yang memainkan peran utama. Peran ini barangkali tidak lazim jika dikaitkan dengan eksistensi mereka sebagai pedagang dan penyandang dana di berbagai belahan dunia lain sejak abad pertengahan hingga kini. Sekalipun orang-orang Arab tertentu lebih belakangan menetap di Madınah dibandingkan orang-orang Yahudi, tetapi secara lebih dominan. Di oase-oase lain seperti Tayma, Fadak, Wadi al-Qura, dan Khaibar, pemukim utamanya juga orang-orang Yahu hijau ini, tidak begitu jelas. Dalam kebanyakan kasus, mereka telah mengadopsi bentuk-bentuk kemasyarakatan dan adat-istiadat Arab, serta hanya berbeda dalam agama.

Sisi hijau Jazirah Arab ini dikemukakan Al-Quran dalam beberapa kesempatan. Sistem irigasi canggih di Arabia Selatan dan kemusnahannya, sering disebut sebagai bobolnya bendungan Ma’arib di sekitar 450 dirujuk dalam Al-Quran 34:16. Masih terdapat beberapa rujukan lainnya di dalam kitab suci tersebut kepada pertanian yang telah menggunakan sistem irigasi. Tetapi, bentuk pertanian yang dipraktikkan di  luar oase-oase di Arabia pada umumnya bersifat musiman, karena ketergantungan yang sangat pada curah hujan, seperti ditamsilkan al-Quran dalam berbagai kesempatan. Wallahu A’lam…

 

Tinggalkan Balasan