Membaca Ulang Spirit Teks Agama

“Agama seharusnya hadir untuk membawa cahaya yang menerangi hati, mencerdaskan pikiran, dan mendamaikan kehidupan bersama. Tetapi ia acap berubah menjadi api yang menyala, membakar, dan petaka yang menghancurkan bangunan sosial.” (hlm. 11)

Begitulah kurang lebih apa yang dikata oleh para bijak-bestari. Perkataan tersebut dikutip dari beberapa tulisan KH Husein Muhammad, baik yang berupa buku maupun artikel di media massa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ucapan tersebut patut menjadi bahan renungan bersama. Di mana belakangan ini kita banyak disuguhkan berbagai berita negatif yang berkaitan dengan agama. Seperti kekerasan dengan berlandaskan jihad atau membela agama, merasa paling benar sendiri dalam beragama, dan segala tindak-tanduk lain yang menimbulkan keretakan antarsesama muslim. Atau bahkan dengan umat beragama lain.

Padahal, Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai hidayah dan rahmat bagi seluruh alam. Dalam hal ini, Islam berarti memberikan kebaikan, kenyamanan, keselamatan, dan kedamaian bagi seluruh alam. Berbuat zalim antarsesama manusia, mengusik ketenangan hewan, serta merusak lingkungan bukanlah ciri muslim yang rahmatan lil ‘alamin.

Buku berjudul Memahami Cita-Cita Teks Agama ini adalah karya KH Husein Muhammad, tokoh agama yang terkenal dengan pemikiran feminismenya. Buku ini berisikan esai-esai Buya Husein, panggilan akrabnya, yang akan membuka mata kita untuk memahami agama secara utuh. Pemahaman yang diperoleh dengan memperhatikan dimensi historisitias, rasionalitas, dan kontekstualitasnya di masa kini.

Rasionalisme-Kontekstualisme Teks Agama

Memahami teks agama tidak cukup jika hanya dimaknai secara literal (harfiah). Memahami teks-teks agama secara literal, tanpa memperhatikan tujuan agama, dapat berpotensi menghasilkan pemahaman agama yang kering, dangkal, dan tidak relevan dengan kehidupan.

Meminjam analogi dari Ngatawi al-Zastrouw, orang yang memahami agama secara harfiah ibarat orang yang menyiram tanaman di saat hujan lebat. Ia melakukan hal tersebut dengan dalih menjalankan perintah, tanpa mengetahui esensi dan tujuan perintah tersebut. Padahal jelas, jika terjadi hujan maka tanaman akan tersiram air secara otomatis.

Selain itu, tidak semua ayat dan teks agama bisa dimaknai dan dipahami secara tekstual. Menurut para ahli tafsir, banyak teka agama yang memiliki makna konotatif (makna kiasan), terutama ayat-ayat mutasyabihat―ayat yang bermakna samar.

Buya Husein dalam bukunya inimengajak kita untuk selalu menggunakan akal budi dalam memahami sesuatu. Beliau beralasan bahwa Al-Qur’an sebagai pedoman utama umat Islam aktif menyeru manusia untuk berpikir.

Sebagai contoh adanya redaksi ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi afalaa tatafakkaruun (apakah kamu tidak memikirkan) dan afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak menggunakan akalmu). Kendatipun redaksi ayatnya berbeda, namun keduanya memiliki substansi yang sama. Yakni, anjuran untuk berpikir dalam memahami sesuatu. (hlm.16)

Dalam salah satu esainya, Buya Husein menawarkan cara memahami teks agar mendekati kebenaran. Beliau mengutip metode dari Syaikh Ibrahim al-Kurani―sosok ulama yang menjadi rujukan ahli Islam Nusantara pada abad ke-17. Al-Kurani menyatakan bahwa memahami teks harus dilakukan dengan mempertimbangkan banyak aspek, seperti: asbabun nuzul, konteks ayat, kisah, hukum, konteks orang yang diajak bicara, dan lain-lain.

Perlu untuk diketahui bersama, bahwa teks selalu berkait-kelindan dengan lingkungan, bahasa, budaya, dan kondisi sosial-politik yang melingkupinya. Teks tidak lahir dari ruang yang hampa. Maka meninjau dan memahami teks secara utuh dari beberapa aspek adalah sebuah keharusan.

Inklusivisme: Nurani dalam Beragama

Dalam relasi antarumat beragama, ada fenomena yang membahayakan jika terus dibiarkan. Fenomena tersebut ialah pandangan eksklusivisme dalam beragama. Yakni, menganggap pandangannya sendiri sebagai sesuatu yang mutlak benar. Sedangkan yang lainnya salah atau sesat. Model pemahaman seperti inilah ang menyebabkan umat terdahulu terpecah-pecah menjadi beberapa golongan.

Islam selalu mengajarkan umatnya untuk menghargai perbedaan. Dalam Islam sikap ini dinamakan tasamuh atau toleransi. Dalam Islam, toleransi bukan berarti mengobarkan keyakinan pribadi, tetapi juga mengakui hak orang lain untuk memiliki keyakinan dan pandangannya sendiri.

Mufasir Quraish Shihab mengatakan  bahwa kehidupan yang penuh dengan  perbedaan itu menjadi kehendak Allah SWT agar terjalin kerja sama antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, serta menjadi perlombaan untuk mencapai kebajikan dan keridaan Allah.

Sebagai umat yang menjunjung tinggi prinsip tasamuh, menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan kita adalah sebuah keniscayaan. Sejak dahulu, perbedaan pendapat di kalangan para ulama mejadi hal yang lazim. Dan mereka selalu berusaha untuk menghargai pendapat yang berlawanan.

Imam Syafi’i, sosok yang telah mencapai derajat mujtahid mutlak, pun masih memiliki sedikit keraguan dalam pendapatnya. Ia berkata, “Pendapatku benar tapi mungkin juga salah, dan pendapat orang lain salah tapi mungkin juga benar.” Secara tersirat beliau mengajarkan pada kita untuk menghargai pendapat orang lain. Sebab, bisa jadi dalam pendapat tersebut terkandung sebuah kebenaran.

Menyertakan nurani dalam beragama tentu suatu yang niscaya jika umat Islam ingin tetap hidup damai berdampingan dengan muslim yang berbeda ideologi, mazhab, atau organisasi. Bahkan dengan umat agama lain. Dalam hal ini, inklusivisme menjadi sebuah solusi, agar manusia bisa memahami keberagaman yang ada.

Data Buku:

Judul    : Memahami Cita-Cita Teks Agama
Penulis  : K.H. Husein Muhammad
Penerbit : IRCiSoD
Cetakan  : Pertama, September 2024
Tebal    : 244 halaman
Dimensi  : 14 x 20 cm
ISBN     : 978-623-8108-59-6

Multi-Page

Tinggalkan Balasan