Melihat kondisi sekarang, di mana teknologi dan informasi terus mengalami kemajuan, kekuatan literasi dirasakan sedikit demi sedikit mulai surut. Di samping dampak positif yang diberikan, seperti mudahnya bagi kalangan pesantren untuk mencari sumber literatur keislaman, dan menyebarkan dakwah di dunia maya, kemajuan teknologi dan informasi ini juga memberikan dampak negatif pula jika tidak disikapi dengan bijak. Ambil saja contoh yang marak terjadi, di mana kutipan-kutipan referensi kitab banyak dimuat di beberapa postingan. Meski tidak dapat dipukul rata, imbasnya, orang-orang menjadi malas membuka kitab dan membaca secara keseluruhan untuk memahami redaksi yang tertera. Atau dengan kata lain, membaca setengah-setengah.
Dalam rangka memberdayakan budaya literasi pesantren, terdapat tiga hal yang perlu diupayakan. Pertama, mengembangkan perpustakaan pondok pesantren. Kedua, mengoleksi berbagai literatur buku maupun kitab. Ketiga, membiasakan mathla’ah kitab atau buku, kemudian ditransfer dalam bentuk produk kepenulisan.

