Thanos vs Avengers
Entah mengapa saat menulis catatan ini, saya jadi teringat karakter Thanos dalam Marvel Cinematic Universe (MCU). Barangkali kita mengenalnya hanya sebagai musuh yang ingin dikalahkan Avengers karena melakukan genosida. Namun, sebenarnya terdapat filosofi kuat dalam karakter titan tersebut.

Thanos ingin membawa keseimbangan ke alam semesta karena ia percaya bahwa populasi yang sangat besar akan menghabiskan seluruh persediaan sumber daya alam semesta dan ia ingin mencegah hal itu terjadi. Kepercayaan ini berpusat pada konsep utilitarianisme ekstrem dan malthusianisme. Dalam logika Thanos kebaikan mayoritas dapat dicapai meski melalui kejahatan. Membunuh separo populasi adalah tindakan rasional untuk menyelamatkan masa depan separo populasi yang lain.
Para pahlawan di dunia Marvel, kemudian menolak logika ini. Mereka meyakini bahwa jiwa manusia bukan sebatas angka yang bisa dikorbankan. Penderitaan tak dapat dikorbankan hanya demi kestabilan yang tidak jelas ukurannya. Bahwa setiap jiwa memiliki nilai yang tidak dapat dipertaruhkan dengan jiwa yang lain. Bahkan, mereka bersedia mengorbankan diri untuk menyelamatkan sesamanya.
Kepercayaan Avengers ini saya rasa sejalan dengan risalah Nabi Muhammad yang berbasis kemanusiaan. Muhammad menolak logika jahiliyah yang hanya memanfaatkan kaum wanita sebagai alat pemuasan hasrat lelaki. Jika Thanos diibaratkan sebagai simbol rasionalitas tanpa belas kasih, maka Nabi merupakan antitesisnya, pembela kaum lemah yang termarginalkan.
