Lalu melintas di benak saya, “Kang Munir… Oh iya…” Saya baru ingat baju koko ini pemberian dari Kang Munir waktu saya masih ngodim, tapi biasa saja tidak bagus-bagus juga, tapi memang secara bahan adem.
Begitu pengajian selesai, saya rencana langsung pulang, tapi sempat mampir di tempat teman yang berjualan kebab, sekadar untuk ngopi-ngopi santai. Nah, di situ kami ngobrol banyak hal, tentang remaja kampung, tentang santri, ini itu-ini itu, sampai pada wilayah syariat, tarekat, jam’iyah, dan lain-lain.

Saya yang biasanya lebih suka mendengarkan dari pada banyak ngomong, tidak tahu kenapa waktu itu kami layaknya orang yang sedang haus dengan ilmu dan pengetahuan. Di situ kami banyak beradu argumen, mengomentari, kadang-kadang saling sangkal, hingga berlarut-larut.
Lalu selepas dari situ, saya pulang dan sampai di rumah kisaran jam satu lebih tiga puluh lima menit. Saya tidak langsung tidur sampai pada kisaran jam setengah tiga dini hari telepon saya berdering. Dalam hati, malam-malam begini siapa menelepon, padahal saya baru mau istirahat, tidur.
Begitu telepon saya angkat, suara dari seberang menyampaikan kabar duka. “Sur…, Kang Munir meninggal.”
