Di kalangan Islam sendiri muncul beberapa tokoh yang melakukan resepsi terhadap Islam–dalam hal ini adalah resepsi Al-Quran. Tujuan dari resepsi Al-Quran adalah untuk memberikan sebuah respons, penerimaan, ataupun tanggapan terhadap beberapa persoalan yang dulunya tidak terpikirkan menjadi terpikirkan saat ini.
Sebagaimana yang diungkap oleh Asia Padmopuspito, dalam artikelnya yang berjudul “Teori Resepsi dan Penerapannya”, resepsi sastra yakni bagaimana seorang pembaca memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadapnya. Tanggapan tersebut bisa jadi pasif, tetapi bisa jadi juga aktif. Tenggapan aktif yakni bagaimana cara untuk merealiasikannya dalam kehidupan, sedangkan tanggapan pasif yakni bagaimana pembaca untuk memahami karya tesebut.

Selain daripada itu, sering juga didapati istilah-istilah atau konsep yang dihubung-kaitkan dengan Islam sebagai landasannya. Seperti menghubung-kaitkan sistem ekonomi yang sering kali diperdebatkan. Misalnya seputar bunga bank. Karena itu lahirlah sistem ekonomi syariah. Ada lagi sistem perpolitikan, yang oleh sebagian orang bahwa citra politik itu identik dengan sesuatu keburukan karena ada praktek licik yang terkadang sering menghiasi gerakannya. Maka, lahirlah sistem politik Islam, dan lain sebagainya.
Adanya kajian-kajian seperti ini menunjukkan bahwa eksistensi Islam, baik dalam kedudukannya sebagai agama maupun kapasitasnya sebagai wujud peradaban umat manusia, hingga kini menjadi telaah yang diperebutkan oleh disiplin ilmu.
Menurut penulis buku Sejarah Peradaban Islam ini, sangat kurang sempurna tatkala mengkaji Islam dengan mengesampingkan sejarahnya. Padahal, mengetahui sejarah adalah jauh lebih penting daripada melupakannya. Bangsa tanpa sejarah akan mudah digilas oleh sejarah, karena sejarah material yang konon valid dan absah, tetapi ternyata dengan mudah dibelokkan, dimanipulasi, bahkan direkayasa penuh tipu (Ashimuddin Musa, Benarkah Walisongo Tak Pernah Ada?, Majalah Aula NU, 2019: 68).
