Oleh sebab itu, Tuhan telah menakdirkan para rasul sebagai perantara-Nya untuk mendidik manusia. Membebaskan manusia dari situasi dunia yang gelap menuju terang benderang. Seperti firman-Nya, “Yukhrijuhum minazh zhulumati ilan nur.” Ayat ini begitu indah dan metaforis. Gelap bukan berarti ruang tanpa cahaya, bukan tanpa matahari, bulan, ataupun bintang. Sebab, ketiganya terus berpendar semenjak diciptakan. Namun, gelap yang sebenarnya ialah ketidaktahuan dan ketidakmengertian.
Seringkali disalahpahami bahwa, Tuhan menurunkan agama semata-mata untuk kepentingan-Nya, bukan kepentingan manusia. Padahal, apologi semacam itu sungguh salah. Mengutip perkataan Imam Izzudin bin Abdissalam:

“Semua tugas yang diberikan Tuhan adalah untuk kepentingan manusia di dunia dan akhirat. Tuhan tidak membutuhkan (sembah sujud0 makhluk-Nya. Ketaatan mereka tidak memberi-Nya manfaat apa-apa. Dan kedurhakaan mereka tidak mengakibatkan kerugian-Nya.”
Sampai di sini, kiranya menjadi clear and distinct bahwa yang membutuhkan agama adalah manusia, bukan Tuhan. Semua konstitusi yang Tuhan tetapkan, nyata demi kebaikan manusia dan sesamanya agar dapat menjadi sebaik-baiknya khalifah fi al’ard. Beragam syariat yang terkandung dalam Islam, misalnya kewajiban berpuasa —bukan cuma menahan lapar dan dahaga— lebih dari itu, puasa menjadi langkah umat Islam agar mampu dalam mengendalikan kecenderungan-kecenderungan egois yang seringkali mendesakkan kehidupan hedonistik. Sehingga benar-benar bisa bertakwa, yang puncaknya, dapat menghadirkan Tuhan dalam jiwa.
Sementara zakat, menjadi momen membersihkan diri dari kesalahan dan dosa, sekaligus sebagai bukti dari rasa kemanusiaan. Bahwa memberi dan membantu orang yang kesusahan adalah suatu kewajiban. Lalu ibadah haji, sebagai wujud konkrit bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan hambanya berdasarkan status sosial, jabatan, apalagi harta. Demikian itu melambangkan kesatuan, kesetaraan, dan ukhuwah umat manusia sedunia. Entah dari latar belakang seperti apa, tetap saja orang yang berhaji wajib memakai sehelai dua helai kain ihram. Tuhan dengan tangan terbuka menerima kehadiran hamba-hamba-Nya.
Di antara puncak spiritual seorang Muslim ialah ketika dapat mencapai maqam ihsan. Yakni menempatkan keimanan dan keislaman pada tingkatan amal saleh, yang meliputi berbuat baik kepada semuanya, termasuk binatang, hewan, dan seisi alam semesta. Sebagaimana perkataan Sayyid Hossein Nasr dalam salah satu makalahnya:
