Seorang santri yang mungkin keluar sebelum menyelesaikan pendidikan formal masih dapat dianggap sebagai alumni jika mereka telah memperoleh pemahaman yang kuat tentang ajaran Islam dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan mereka.
Terdapat berbagai alasan mengapa seorang santri mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh kurikulum, termasuk masalah keuangan, kesehatan, atau keluarga.

Memperpanjang persyaratan menjadi alumni hanya pada mereka yang menyelesaikan seluruh kurikulum dapat mengecualikan individu yang mungkin memiliki potensi dan dedikasi, tetapi menghadapi hambatan tertentu.
Meskipun mungkin tidak menyelesaikan seluruh kurikulum, seorang santri masih dapat memberikan kontribusi yang berharga dalam masyarakat dengan pengetahuan dan nilai-nilai yang mereka peroleh selama masa studi mereka di pondok pesantren. Mengakui kontribusi ini dapat memberikan dorongan motivasi dan penghargaan kepada mereka yang telah berpartisipasi dalam pengalaman pendidikan di pondok pesantren.
Dari dua pandangan yang berbeda mengenai status alumni pondok pesantren bagi santri yang keluar sebelum menyelesaikan disiplin ilmu pondok pesantren, kesimpulan yang paling membangun adalah bahwa status alumni seharusnya tidak hanya didasarkan pada pencapaian akademis semata, tetapi juga pada pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun menyelesaikan seluruh tingkatan disiplin ilmu dianggap sebagai landasan yang kuat untuk menjadi alumni, mengakui kontribusi positif dan pengabdian santri yang mungkin keluar sebelum menyelesaikan disiplin ilmu juga penting.
Oleh karena itu, kesimpulan yang terbaik adalah menerapkan pendekatan yang inklusif, yang mengakui berbagai bentuk pencapaian dan komitmen terhadap nilai-nilai yang diajarkan di pondok pesantren.
Dengan demikian, sementara pencapaian akademis tetap menjadi faktor penting, pengakuan sebagai alumni seharusnya lebih fokus pada pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Wallahua’lam bisshowaab.
