Nasib Pengemis

“Dia mungkin ingin beli minuman sendiri, yang sesuai dengan keinginannya. Makanya menolak minuman yang Ibu kasih tadi,” timpal si anak perempuan yang tadi jatuh.

“Itu berarti dia menolak rezeki dari Tuhan, Nak. Pengemis, kok, menolak rezeki dari Tuhan. Itu sombong namanya. Ayo, kita gowes lagi!”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ibu muda itu mulai mengayuh sepedanya, dibuntuti kedua anaknya. Jauh di belakang sana, perempuan paro baya itu membalikkan badannya, lalu melangkah pelan, berjalan sambil membungkuk-bungkuk. Ia terus melangkah melewati rute-rute yang biasa ia tempuh, keluar masuk ke jalan-jalan yang mengiris-iris perkampungan padat penduduk.

Ia sampai di ujung lorong buntu ketika senja jatuh. Ia berdiri mematung di sana sudah beberapa lama. Menatap mangkuknya yang masih kosong melompong. Tak seperti biasanya, sepanjang hari Sabtu ini, sepanjang rute yang biasa ditempuh, belum terdengar gemerincing suara uang logam jatuh di mangkuknya. Atau gesekan uang kertas menumpuk di sana.

Ketika gema azan maghrib didengarnya secara samar, ia duduk dengan menyandarkan punggungnya pada sebatang tiang listrik. Ia mulai merasakan kehausan yang sangat ketika kedua matanya mulai terkatup. Mungkin antara tertidur atau terjaga, tak pasti apakah dia sedang bermimpi atau benar-benar melakukannya; ia memegangi tenggorokannya sambil berucap lirih,

“Tuhan, haus sekali. Beri aku rezeki…”

Dia benar-benar berada dalam kesendirian. Tak ada seorang pun di sekitarnya yang memberinya jawaban. Dia hanya merasa ada suara samar-samar yang membelai telinganya. “Tuhan sudah memberimu rezeki, tapi kamu menolaknya.”

Dan gelap pun jatuh.

Tinggalkan Balasan