Ngaji

Tapi panggah sayang, meskipun tak harus beribu sayang. Bukannya keluasan khazanah yang dicari dan didapat, bukannya kelapangan hati yang diupayakan dan dirasakan, kita seringkali hanya terbiasa–atau mungkin membiasakan–mendengarkan saja, hanya mendengarkan ngaji, masuk ke telinga satu keluar di telinga satunya. Tak jarang kita malah asyik bermain, bergurau, tertidur, dan tidak sungguh-sungguh serius menghayati aktivitas Ngaji. Begitulah kita. Sehingga semangat yang diharapkan oleh isi ngaji seringkali berbanding terbalik dengan sikap kita di kehidupan.

Memang, menghadiri ngaji adalah juga hal baik yang patut diapresiasi dengan pahala. Tapi ini tentang kehidupan kita di dunia juga, tentang bagaimana kita mengolah sikap dan sudut pandang dalam berkehidupan. Jika beragama hanya untuk mencari pahala saja, duh, betapa mungkin sedih dan merananya junjunjungan kita melihat cara kita menjalankan agama, yang hanya memprioritaskan jumlah pahala namun luput pada perenungan sosial. Lupa bahwa agama adalah suatu tatanan yang muaranya menuju kebaikan kehidupan di dunia juga, bukan akhirat saja. Jika ini diabaikan, dikhawatirkan bukannya kebaikan dunia-akhirat yang kita dapatkan, malah justru kejahatan dunia-akhiratlah yang sedang kita selenggarakan (naudzubillah).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ngaji atau sinau atau belajar dan serumpun kata dulur-dulur-nya memang sungguh penting. Lebih penting lagi adalah mengamalkannya. Pernyataan itu sinergis dengan anjuran-anjuran mendasar dalam beragama. Bahkan mungkin semua agama akan terus dan selalu menganjurkan para pemeluknya untuk ngaji, sinau, belajar lagi dan lagi. Lalu sebagian kita mungkin akan ada yang ingin bertanya, “untuk apa ngaji?” Tapi perlukan pertanyaan itu dijawab?

Tinggalkan Balasan