Malam itu Umar kembali ke pondok selepas pulang sebab Emaknya melahirkan adik keduanya. Ya, dia memang biasa pulang karena rumahnya tidak begitu jauh dari pondok. Ini adalah malam pertama Umar ngaji bandongan di masa pandemi. Tak ada yang aneh malam itu, semua terasa seperti hari-hari biasa. Hanya, kini harus menggunakan masker dan menjaga jarak satu sama lain.
Sampai waktu di mana ngaji bandongan selesai. Pak Kiai menutup dengan salam dan meninggalkan tempat mengaji seperti biasanya. Rupanya, Umar dari barisan belakang sudah siap-siap berlari ke depan untuk mengambil gelas kopi Pak Kiai dan menjadi orang pertama yang meminumnya.

Sontak dia berlari setelah Pak Kiai tak terlihat lagi di tempatnya. Yaapp, dia berhasil pegang gelas itu dan meminum kopi di dalamnya. Lima detik kemudian, Umar terpaku, terheran-heran, mengapa tidak ada santri yang mengantre di belakangnya? Dia menengok ke arah santri lain yang pandangannya tertuju pada Umar seluruhnya. Canggung sekali rasanya.
