Dalam sambutannya, Kepala Delegasi Taliban, Mr Wakil Ahmad Mutawakkil, menyampaikan: “Kami senang bisa datang dan menyaksikan Indonesia sebagai negara yang damai yang penduduk Islamnya terbesar di dunia. Yang bersatu, di mana persatuan itu dibentuk melalui musyawarah antar–warga negara yang berbeda suku dan agamanya. Karena itu tidak aneh kalau pimpinan kami, Amirul Mu’minin Mulla Umar, berharap pada pemerintah Indonesia dan NU untuk membantu proses perdamaian di negeri kami. Dialog ini merupakan langkah penting untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama 42 tahun di negeri kami.”
Sambutan ini disampaikan dengan intonasi dan bahasa yang lebut dan santun, tidak keras meledak-ledak.

Dalam sambutan sebelumnya yang disampaikan KH As’ad memang sempat disinggung surat dari Mulla Umar, pemimpin spiritual Afghan yang disegani oleh Taliban. Kyai As’ad juga menunjukkan bukti fisik surat yang ditulis oleh Mulla Umar kepada delegasi Taliban.
Dalam surat itu disebutkan, beliau mengucapkan terima kasih kepada NU dan Pemerintah RI atas bantuannya mengatasi krisis sandra Korea Selatan. Selanjutnya Umar meminta agar Indonesia meluruskan cintra tentang Taliban, bahwa Taliban bukan teroris, tetapi pejuang. Beliau juga meminta agar NU membantu menyelesaikan konflik di Afghanistan.
Disebutkan dalam catatan KH Mun’im, saat melihat surat yang ditulis Mulla Umar, para delegasi Taliban tercengang dan secara spontan berteriak “Amirul Mukminin.” Mereka tidak menyangka kalau NU mendapat amanat langsung dari pemimpin besar mereka untuk mengupayakan perdamaian.
Hal itu membuat mereka semakin percaya kepada NU, karena melihat bahwa apa yang dilakukana NU merupakan amanat langsung dari pimpinan mereka, bukan karena kepentingan politik atau ekonomi. Menganai suasana dialog, isi dialog, dan hasilnya akan penulis paparkan lebih detail dalam tulisan berikutnya.
