Dalam pertemuan selama dua jam tersebut, saat sedang asyik-asyiknya ngobrol dan bercanda-ria cerdas itu, tiba-tiba Gus Dur pamit kepada Gus Mus, “Gus, saya harus segera berangkat ke Tebuireng. Saya dipanggil Si Mbah.” Seminggu kemudian, tersiar kabar beliau telah berpulang ke hadirat-Nya.
Obrolan KH Husein Muhammad bersama Gus Mus berlanjut ke soal gelombang manusia yang tak pernah berhenti bergerak menziarahi dan mendoakan Gus Dur.

“Ya Gus, saya dan kita semua yang ada di sini, serta berjuta-juta orang di negeri ini dan negeri-negeri yang lain juga berduka cita, merasa kehilangan Gus Dur. Lihatlah sejak Gus Dur pulang sampai hari ini, rumah, tempat istirahat abadi Gus Dur, terus dikunjungi ribuan orang dari berbagai daerah di Jawa maupun dari luar Jawa, bahkan juga orang-orang luar negeri yang mengenal dekat Gus Dur,” tutur KH Husein Muhammad, menimpali pernyataan Gus Mus (hlm. 14).
“Tak banyak yang paham dan mengerti mengenai fenomena ini. Mereka mencintai Gus Dur. Boleh jadi, ini karena mereka merasa bahwa Gus Dur memberikan perhatian sepenuh hati kepada mereka. Gus Dur mencintai mereka dengan tulus, tanpa pamrih apa pun. Seperti sabda Nabi yang mulia, ‘Man yarham yurham’ (Siapa yang menyayangi akan disayangi),” lanjut pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid sekaligus Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan tersebut.
Di dalam buku, penulis juga mengungkapkan rasa penasaran yang sampai menjelma ke tingkat kegelisahan. Kegelisahan seputar pesan terakhir Gus Dur yang beliau tanyakan kepada Gus Mus seolah belum memuaskan hatinya. Akhirnya, pertanyaan itu terjawab saat penulis buku ini diajak makan siang oleh Ibu Sinta (Ny. Hj. Sinta Nuriyah Wahid) di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Di situ, KH Husein sempat menanyakan tentang pertemuan terakhir Gus Dur dengan Gus Mus seminggu sebelum kepulangannya.
