Kita seakan hidup di zaman di mana sejarah tengah berusaha direvisi oleh kenangan. Meminjam frasa dari Benedict Anderson dalam bukunya Imagined Communities (1983), bangsa adalah sebuah komunitas yang “terbayang” dan terbentuk bukan hanya oleh darah dan tanah, tetapi juga oleh narasi yang kita sepakati bersama. Jika narasi itu kemudian dipelintir demi kepentingan politik tertentu, maka yang terancam bukan hanya kebenaran sejarah, melainkan juga keutuhan imajinasi kita sebagai bangsa. Pahlawan, dalam pengertian yang luhur, semestinya adalah figur yang menginspirasi keadilan, bukan sekadar simbol dari stabilitas semu.
Dan fenomena glorifikasi terhadap tokoh-tokoh Orde Baru sebenarnya bukan hal baru. Di media sosial, misalnya, sering muncul nostalgia terhadap masa “Soeharto beras murah, dan sebaginya.”

Nostalgia semacam ini, bagi saya, adalah pelarian dari ketidakpastian zaman sekarang—dari inflasi, politik yang gaduh, dan rasa kehilangan arah terhadap masa depan bangsa. Karena, nostalgia yang tak disertai refleksi kritis berisiko meninabobokan kesadaran publik. Ia bisa membuat kita melupakan bahwa kemakmuran tanpa kebebasan adalah kemewahan yang rapuh, dan ketertiban yang lahir dari ketakutan bukanlah kedamaian sejati, bukan?
