Performence Monolog
Dalam acara ini, pokok kegiatan adalah penampilan (performance) dari Inayah Wulandari Wahid, Ngatawi Al-Zastrow, Kaisar Nuno, para santri, dan Ki Ageng Ganjur.

Inayah Wahid sebagai tokoh utama berprofesi sebagai penjual sarung. Suatu monolog yang sangat apik karena di dalamnya disentil hal-hal yang terjadi dalam keseharian. Ada utang piutang, ada celana cingkrang, mau benar dan menang sendiri, ustaz-ustaz selebritas, dan lain sebagainya.
Di dalam monolog ini juga ada pembacaan puisi oleh Lulu Il Asshafa yang membacakan puisi dengan judul “Percakapan Sarung dan Jilbab.” Selain itu juga dibacakan puisi dengan judul “Munajat untuk Negeri Sarung.”
Saya melihat bahwa pembaca puisi ini benar-benar menjiwai terhadap puisi ditilik dari gerak tubuh dan mimik muka yang begitu serasi. Itu sekilas menurut saya bahwa Lulu Il Asshafa termasuk pembaca puisi yang baik dan berpengalaman.
Dalam monolognya, Inayah Wahid mengatakan, “Santri saat ini lebih mendalam shopingnya daripada ngajinya.” Tentu hal ini sebagai kritikan terhadap karakter santri yang cenderung abai terhadap ajaran pesantren. Meskipun tidak sepenuhnya benar, akan tetapi nilai-nilai pesantren yang telah kusut harus dibenahi demi keberadaan pesantren itu sendiri.
Hingga kemudian, Inayah menyitir sebuah nazham dalam kitab Ta’limul Muta’allim: ada 6 hal yang harus dipenuhi untuk menjadi pencari ilmu yang sesungguhnya. Yaitu, (1) Cerdas (berakal), (2) Antusias (hobi belajar), (3) Sabar (gigih dan tabah), (4) Biaya (sarana-prasarana), (5) Bimbingan guru, dan (6) Waktu lama.
Masih menurut Inayah, mencuci sarung dengan baik agar dapat digunakan untuk menjalankan syariat adalah suatu keniscayaan. Akan tetapi, jangan pernah diabaikan untuk mencuci isi sarung dan isi peci agar tidak terjadi hal-hal yang merusak kehidupan itu sendiri. Kesucian isi sarung jauh lebih penting daripada sarung an sich. Meskipun kesucian sarung juga harus diperhatikan demi kemaslahatan ibadah kepada Allah swt.
Sementara itu, Ngatawi Al-Zastrow, mengatakan bahwa nasionalisme bagi santri merupakan hal yang sudah biasa dan berakar kuat di dalam jiwa. Sehingga nasionalisme di kalangan pesantren tidak perlu diragukan lagi. Tentu saja bentuk-bentuk cinta terhadap tanah air diwujudkan dengan ragam kegiatan dan program. Pada dasarnya apapun bentuk kegitan senyampang untuk membangun negeri dan tidak mengganggu orang lain, maka hal itu sah untuk diimplementasikan dalam kehidupan.
