PAWANG HUJAN

Jingga. Kedip hura tersapu gugus mata api
Berintai azan Maghrib yang terapung dekat sawah
Padi-padi menguning tua, tapi aku masih buta.

Beduk bernyanyi memanggil burung sayap kelabu
Nikmat Tuhan ini, serupa patah senja sebelumnya.
Nikmat Tuhan itu, seandai majas majasi dini hari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maghrib sudah berlalu melanglang rindu
Kita tak di sini, sementara nama jauh di sana
Berkisar jejak tatapan nan senyuman.

Tersisa siluet daun jati muda, berkabar tentang
siapa saja yang hingar akan tujuan waktu.
Ia dan kita, terpanggil lamunan dua juta detik.

Setiap segala pertanyaan malam, selalu
saja kapan paginya bisa terbit senyum
serinai doa hujan, dan hari raya berpelukan.

Sumenep, 2020.

HIKAYAT MALAM

Hitam. Menyulam peristiwa yang bertanggal
Mencari tempat sepi, berdayung palung mesra.

Tangis hening beranjak pergi ke surau kota
Tangan waktu hitam bermalam di dadanya
Hingga sejumput kuil asa, merekam mata pelita.

Ia diam dengan kesiapan tabiat sunyi.
Ia tutup permintaan pintu-pintu, menatap pinta-pinta.
Terbayang aku terbang tanpa sayap-sayap riang.

Sebesar diksi yang kasih curi di meja makan
Seraya umpan benih bersandar ketabahan
Hitam. Menyulam peristiwa yang tertinggal.

Sumenep, 2021.

Tinggalkan Balasan