Pelajaran dari Langgar Desa: Teologi Kesederhanaan

Di desa tempat saya tumbuh, langgar adalah bangunan yang lebih sakral ketimbang kantor kelurahan. Langgar tidak hanya menjadi tempat salat lima waktu. Ia juga tempat semua luka sosial menemukan sedikit balsem spiritualnya.

Di langgar, ibu-ibu yang ditinggal suami ke rantau menitipkan doa dan air mata; petani yang gagal panen bersimpuh dalam sujud yang panjang; anak-anak belajar menyusun huruf-huruf hijaiyah seperti sedang membangun kembali harga dirinya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

2 Replies to “Pelajaran dari Langgar Desa: Teologi Kesederhanaan”

Tinggalkan Balasan