Di desa tempat saya tumbuh, langgar adalah bangunan yang lebih sakral ketimbang kantor kelurahan. Langgar tidak hanya menjadi tempat salat lima waktu. Ia juga tempat semua luka sosial menemukan sedikit balsem spiritualnya.
Di langgar, ibu-ibu yang ditinggal suami ke rantau menitipkan doa dan air mata; petani yang gagal panen bersimpuh dalam sujud yang panjang; anak-anak belajar menyusun huruf-huruf hijaiyah seperti sedang membangun kembali harga dirinya.

Related
2 Replies to “Pelajaran dari Langgar Desa: Teologi Kesederhanaan”
Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.
Populer
Besok, JDS Gelar Temu Sagara Penyair ASEANJumat (16/10/2026) besok, jejaring duniasantri (JDS) akan menggelar Temu Sa...
HIMA SPI UNUSIA Gelar Pelatihan JurnalistikHimpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (HIMA SPI) Univers...
MEMBACA HUJAN DI BOLA MATAMUMEMBACA Ikan-ikan di kepalaku mulai berenang Menggerakkan sirip-sirip keing...
Dari Temu Sagara Penyair ASEAN ke Puncak FestivalRangkaian Festival Dunia Santri 2026 akan memasuki puncaknya pada Sabtu, 24...
Perginya Sang Singa PodiumInnā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Indonesia kembali kehilangan seorang u...
Trending
Dari Temu Sagara Penyair ASEAN ke Puncak FestivalRangkaian Festival Dunia Santri 2026 akan memasuki puncaknya pada Sabtu, 24...
Perginya Sang Singa PodiumInnā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Indonesia kembali kehilangan seorang u...

Indah sekali bahasanya, mantap,,,,
Alhamdulillah