Pembongkaran Makam Mbah Lasemi

“Baik, tolong dengarkan dulu ya semuanya. Jadi nama kitab ini adalah Nihayatuz Zain, sebuah kitab syarah karangan Syaikh Nawawi al Bantani al Jawi. Di sini disebutkan bahwa ada beberapa hal yang membolehkan dibongkarnya sebuah makam. Di antaranya adalah jika mayit belum sempat dimandikan, mayit dimakamkan di tanah ghasab atau memakai kain kafan ghasab, mayit belum dihadapkan ke arah kiblat, dan ada harta yang ikut terkubur bersama mayat. Nah, di sini kita bisa mengqiyaskan HP dengan harta, jadi kita boleh membongkarnya,” terang Kaliber panjang lebar.

“Apa itu benar Ber? Kamu nggak mengada-ada kan?” tanya Ngariem.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ngapunten, Bik Yem silahkan mondok dulu biar tahu kebenaran bacaan saya ini,” timpal Kaliber.

Setelah diskusi yang cukup alot serta sempat pula disowankan pada Kiai Darwis, akhirnya disepakati untuk menggali kembali makam Mbah Lasemi. Mereka bersepakat untuk melakukan pembongkaran setelah acara kenduri tujuh hari selesai. Ngalimin harap-harap cemas menantikan hari pembongkaran itu tiba. Ia sangat berharap pembongkaran sukses agar jenazah ibunya tak terusik sekaligus gawai milik anaknya bisa kembali.

Sementara itu para tetangga yang tak tahu diri nyeletuk, “Lihat saja, jika HP itu nanti memang terkubur bersama jenazah Mbah Lasemi, apakah pulsa di HP itu berkurang ataukah tidak. Jika berkurang dan ada jejak WA balasan untuk pertanyaan Si Kaliber apakah bacaan Yasin serta tahlil, juga doa-doa itu sampai, berarti selama ini amalan Yasin juga tahlil kita sampai dan tidak sia-sia.”

“Kau matilah dulu, akan kubawakan HP-ku yang canggih ini. Aku ingin tahu apakah orang mati di kuburan yang dibekali HP bisa membalas WA ataukah tidak,” timpal tetangga yang lain yang kemudian disambut dengan deraian tawa.

Dan waktu yang dinanti-nanti itu pun datang juga. Segenap keluarga anak-cucu Mbah Lasemi yang terdiri dari tujuh anak dan lebih dari sepuluh cucu itu ikut datang ke pemakaman. Ternyata gawai itu memang terkubur bersama mayat Mbah Lasemi. Betapa senangnya Ngalimin dan Ndalikem barang mewah itu bisa kembali. Hariri yang sejak beberapa hari yang lalu uring-uringan kini mulai berwajah cerah kembali. Namun sebenarnya dia juga senang jika gawai itu tidak ketemu karena dia bisa meminta gawai yang lebih baru lagi.

Bersamaan dengan ketemunya gawai milik Hariri itu terjadilah sebuah kehebohan. Jasad Mbah Lasemi yang telah terkubur selama hampir sepuluh hari itu masih utuh dan bahkan tercium juga bau wangi. Banyak di antara mereka yang menangis terharu. Bisik-bisik pun terdengar mengenang kembali kebaikan-kebaikan Mbah Lasemi semasa hidupnya.

“Apa sebenarnya kebaikan simbah semasa hidup Pak De, sehingga Allah mengistimewakan simbah begitu rupa?” tanya Kaliber yang heran melihat jasad utuh neneknya. Tidak hanya itu yang membuat dia heran, bau wangi bunga-bungaan yang masih tercium itu begitu membuat Kaliber penasaran tentang sosok neneknya.

“Simbok orang yang baik sekali, tak pernah mau jika diajak ngerasani kejelekan orang,” tukas Ndalikem.

“Seingatku dia selalu salat jemaah di musala peninggalan bapak,” kenang Ngariem.

“Itu memang benar, tapi kukira hal yang paling baik adalah ketika simbok mengikhlaskan harta warisan yang direbut oleh Mbah Das, adiknya yang serakah itu,” tukas Ngadiyah.

“Semua hal itu memang benar. Simbok orang yang salihah. Dan hal yang perlu kita ingat adalah, sekarang ini kita tidak punya sosok simbok yang bisa menasihati jika kita sedang keliru. Kita juga tidak punya tempat untuk bertanya lagi jika kita sedang ada masalah. Marilah kita bertanya pada diri sendiri masing-masing, apakah kita bisa meniru kebaikan-kebaikan simbok itu?”

One Reply to “Pembongkaran Makam Mbah Lasemi”

Tinggalkan Balasan