Pembunuhan di antara Dua Fragmen Kasih Sayang

“Rasanya, aku tak pantas lagi hidup, Bu.”

“Sudah, sudah. Tuhan ingin mengambil Rana lebih lekas dari yang kita duga, Nak. Ikhlaskan, ya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sejak saat itu, dengan maksud meringankan rasa sepi Sari, ibunya membelikan Sari seekor kucing Anggora. Kucing itu masih kecil, berwarna putih dengan corak abu-abu. Melihat kucing itu, awalnya Sari tampak tak acuh. Ia telah lama kehilangan harapan dan semangat hidup, mulai dari kepergian anaknya, ditambah pula suami yang ia harapkan dapat menjadi sandarannya justru mengkhianatinya. Akan tetapi, begitu kucing itu datang kepadanya dan menggesek-gesekkan tubuh di sela kakinya, tanpa diduga, Sari mengangkat kucing itu.

Di gendongannya, kucing itu mengeong pelan, dan itu membuat Sari tersenyum.

“Rawatlah. Biar kamu tidak kesepian lagi,” kata ibunya.

“Aku ingin menamainya Rana. Apa boleh?”

Sejenak, ibunya tampak tersentak, tapi buru-buru mengangguk setuju.

Kucing yang diberi nama Rana itu pun dirawat oleh Sari sebaik ia merawat anaknya dahulu. Atas perawatannya yang terjamin, Rana tumbuh dengan cepat dan sehat. Ia menjadi kucing ceria yang menggemaskan. Ia senang diajak bermain, berlarian, dan sangat manja kepada siapa pun. Karena keaktifannya itu pula, Rana kerap bertandang ke rumah-rumah di sekitar tempat tinggal Sari. Terutama di sebuah rumah yang dipenuhi bebungaan di pelatarannya. Ia senang tiduran di sela tanaman yang ada di rumah itu.

Sementara Rana senang, Sari justru yang kerepotan sebab ia mesti mencari kucingnya itu ke mana-mana. Dan sewaktu ia menjemput Rana di rumah tetangganya yang dipenuhi bebungaan, itulah kali pertamanya ia bertemu dengan Martin.

***

Martin tak menyangka, wajah Sari tak menampakkan penyesalan atau emosi apa pun. Bahkan, saat diantar oleh seorang polisi tadi, Sari menyempatkan untuk menyapanya. Sari tampil seperti biasanya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah tindakannya beberapa saat yang lalu bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan.

“Kau tahu, dia ternyata menyayangi tanamannya lebih dari apa pun.” Sari tertawa kecil.

“Maksudmu?”

“Istrimu itu, Bella. O ya, aku menggorok lehernya dengan sabit yang biasa ia gunakan untuk menyiangi rumput di sela tanaman kesayangannya itu.”

Martin benar-benar bingung sekarang. Sari tampak sama sekaligus berbeda. Ada bagian dari Sari yang selama ini tak pernah ia jumpai. Bagaimana seseorang bisa tampak tenang setelah melakukan pembunuhan?

Tinggalkan Balasan