Pengemis Misterius

“Bukan, Mas,” jawab Muslimatin sembari membuka selambu yang menutupi jendela kamarnya. “Itu, lo.” Ia menunjuk ke arah orang tersebut.

Wagino ke kamar mandi. Muslimatin mengikutinya. Wagino membasuh mukanya di sana lalu bergegas menghampiri sosok lelaki tersebut. Musimatin mengikutinya dari belakang. Dan betapa kagetnya Wagino ketika melihat sosok lelaki itu adalah pengemis yang setiap azan Isya’ selalu duduk di samping masjid Baitul Muttaqin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“kenapa, Mas?”

“Ini pengemis yang setiap hari duduk di samping masjid, Dik.”

Wagino lalu membawa jenazah pengemis itu menuju masjid Baitul Muttaqin dengan diikuti Muslimatin. Jenazah itu diletakkan di teras masjid begitu saja dan kemudian Wagino berlari menuju rumah Pak Majid yang biasa mengurus jenazah.

Pak Majid menuju masjid. Tanpa dimandikan dan disalatkan, ia menyuruh Wagino untuk mengubur jenazah pengemis itu begitu saja di belakang masjid. Wagino pun mengubur pengemis itu di belakang masjid tanpa sepengetahuan masyarakat.

***

Esok harinya, orang-orang yang biasa mendapati plastik hitam berisi beras itu tidak mendapatinya lagi. Mereka agaknya terlalu berharap pada pemberian pengemis itu. Termasuk juga Mbok Martiyem yang mengutang beras kepada Muslimatin karena tidak memiliki uang untuk membeli beras.

“Sudah tidak ada lagi beras di depan rumahmu, ya, Mbok?” tanya Muslimatin.

“Iya, sudah tidak ada lagi, Tin.” Raut wajah Mbok Martiyem terlihat sedih.

“Ndak usah utang, Mbok. Pakai saja berasnya.”

***

Fajar ketika Mbah Kamuli azan Subuh, tiba-tiba pengemis itu datang. Ia kaget karena tadi malam ketika jamaah Isya, pengemis itu tidak ada di masjid. Dan orang-orang sudah berspekulasi banyak tentangnya. Ada yang mengatakan bahwa ia telah mati, ada yang mengatakan kalau ia sudah berpindah masjid, dan lain sebagainya.

Mbah Kamuli melantunkan pujian. Dan seperti biasa, pengemis itu melaksanakan salat dua rakaat. Setelah iqamat, pengemis itu maju dan salat berjamaah dengan Mbah Kamuli. Ketika Mbah Kamuli memimpin wiridan, ia mencium aroma kembang melati. Sebab sangat tercium oleh hidungnya, Mbah Kamuli nencari penasaran. Ia kemudian mencari sumber bau melati tersebut yang ternyata dari belakang masjid.

Dan Mbah Kamuli terperangah sebab melihat gundukan tanah. Dihampirinya gundkan tanag itu. Sebuah makam. Tahu kau apa yang dilihat oleh Mbah Kamuli? Mbah Kamuli kagetnya bukan main, sebab nisan yang tertulis di makam itu adalah “Pengemis Misterius”.

ilustrasi: wartaexpress.com

Tinggalkan Balasan