Hukum Ketertarikan (Law Of Attraction) menjelaskan seputar ketertarikan atau sebab akibat (simbiosis mutualisme). Yakni, sebuah kerangka berpikir, yang ketika konsentrasi pikiran kita terfokus pada sesuatu, baik hal itu positif maupun negatif, maka akan benar-benar mewujud dalam kehidupan realita (hal. 6).
Rupanya kita sendiri terkadang sering terjebak dalam kesalahan berpikir yang seperti ini, dan itu tidak kita sadari. Ketika pikiran negatif yang kita rasakan telah cukup kuat, sehingga akibat dari pikiran tersebut alam semesta merespons pikiran negatif tersebut. Alhasil, yang tampak dalam kehidupan nyata adalah adalah sesuai dengan apa yang kita pikirkan tersebut.

Dalam ilustrasi di tersebut, yang pertama menggambarkan contoh dari sikap berpikir positif. Sebagai bagian dari buah keberhasilannya adalah sesuatu yang positif pula. Contoh ilustrasi kedua merupakan sebuah cerminan dari pikiran negatif, yang mengakibatkan usahanya tidak maksimal, karena dari sejak awal sudah meragukan kemampuannya.
Rusdin S Rauf, penulis buku ini, Quranic Law of Attraction ini, hendak mencoba menghadirkan data-data argumentatif bahwa jauh sebelum orang-orang Barat memberikan perhatian pada persoalan kekuatan pikiran, kitab suci umat muslim sudah membahasnya. Ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang oleh penulis ini dijadikan landasan. Namun, penulis hanya mengambil sebagian dari ayat tersebut. Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa mengajarkan kebaikan seberat biji zarrah, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan, barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya,” (QS. Az-Zalzalah, [99]: 7-8).
Ketika kita membaca ayat tersebut, betapa Allah SWT telah mengingatkan kita untuk selalu memberikan getaran positif (kebaikan) dan memancarkan kebaikan terhadap orang lain di sekitar kita. Sesungguhnya, Allah SWT akan membalas kebaikan itu, berapa pun kadarnya. Oleh karena itu, sebagaimana contoh kasus yang pertama dalam ilustrasi di atas tadi, bahwa Allah SWT membalas dengan menghadirkan orang-orang yang senantiasa memberikan kebaikan. Dengan kata lain, kebaikan dibalas kebaikan (hal. 13).
